BAB I
PENGERTIAN
AVES
Kata aves berasal dari bahasa latin yang dipakai sebagai naa
kelas, sedangkan ornis dari kata Yunani dipakai dalam “ormitologi” yang berarti
ilmu yang mempelajari burung-burung. Kelas aves merupakan evolusi segala
reptilia (radiasi reotilia). Telur amniotic dan sisik pada kaki hanyalah
dua diantara semua ciri khas reptilian yang ditemukan pada burung. Akan tetapi
burung modern (yang ada saat ini) tampak sangat berbeda dari reptilia
karena memiliki bulu perkakas terbang lainya yang khas seperti sayap (Cambell,
2003).
Aves merupakan kelas tersendiri dalam kingdom animalia, aves
atau burung memiliki ciri umum yaitu berbulu dan kebanyakan diantara mereka
bisa terbang. Kelas aves adalah satu-satunya kelompok hewan yang memiliki bulu,
(jangan salah mamalia berambut, bukan berbulu). Hal ini merupakan keunikan
tersendiri dari kelompok hewan tersebut. Berikut adalah uraian singkat tentang
kelas aves,
Definisi Aves adalah vertebrata dengan tubuh yang ditutupi
oleh bulu (asal epidermal), sedangkan hewan lainnya tidak ada yang berbulu.
Aves adalah vertebrata yang dapat terbang, karena mempunyai sayap yang
merupakan modifikasi anggota gerak anterior. Sayap pada aves berasal dari
elemen-elemen tubuh tengah dan distal. (pada fosil Pterodactyla = reptilian dan
chiropetra = mamalia terbang, sayap berasal dari elemen-elemen tubuh distal).
Kaki pada aves digunakan untuk berjalan, bertengger, atau berenang (dengan
selaput interdigital). Karakteristik tengkorak aves meliptui tulang-tulang
tengkorak yang berfusi kuat, paruh berzat tanduk. Aves tidak bergigi. Mata
besar. Kondil oksipetal tunggal. Contoh aves, burung, penguin.
BAB II
PEMBAHASAN
CIRI-CIRI
AVES
Menurut
Jasin (1996) kelas aves meiliki cirri-ciri khusus yaitu :
1.
Tubuh terbungkus oleh tubuh.
2.
Mempunyai dua pasang ekstremitas, anggota depan (anterior)
mengalami modifikasi menjadi sayap (ala), sedangkan sepasang anggota posterior
(depan) disesuaikan untuk hinggap dan berenang, masing-masing kaki berjari 4
buah, cakar tebungkus oleh kulit yang menanduk dan bersisik.
3.
Skleton kecil dan baik, kuat dan penulangannya sempurna.
Pada mulut terdapat bagian yang berproyeksi sebagai paruh atau sudu yang
terbungkus oleh lapisan zat tanduk. Pada burung tempurung kepala emiliki
sepasang condylus occipitalis, lehernya sangat fleksibel.
4.
Jantung terdiri dari 4 ruang yakni dua auricular dan 2
ventricula, hanya arcus anterioeus kanan yang masih ada, erytrocitnya berinti,
berbentuk oval, dan conveks.
5.
Respirasi dilakukan dengan paru-paru yang kompak yang
menempel pada Costae dan berhubungan dengan kantung udara (saccus pnematicus)
yang meluas pada alat-alat dalam, eiliki kotak suara atau syrinx pada dasar
tracea.
6.
Tidak memiliki vesika urinaria. Zat-zat ekresi setengah
padat.
7.
Telah memiliki 12 nervi cranualis.
8.
Suhu tubuh tetap (homoiothermis).
9.
Fertilisasi terjadi di dalam tubuh. Telur memiliki yolk
besar terbungkus oleh cangkang yang keras, untuk menetas diperlukan pengeraman.
CIRI
MORFOLOGI AVES
a.
Struktur Bulu
Bulu
adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Hampir
seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari epidermal
tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu aves
bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis. Dasar
bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk folikulus yang
merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup
bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk
lapisan penyusun rusuk bulu.Sentral kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang
lunak dan mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses
pengeringan pada perkembangan selanjutnya (Jasin, 1984).
Berdasarkan
susunan anatomis bulu dibagi menjadi:
1.
Filoplumae, Bulu-bulu kecil mirip rambut tersebar di seluruh tubuh.
Ujungnya bercabang-cabang pendek dan halus. Jika diamati dengan seksama
akan tampak terdiri dari shaft yang ramping dan beberapa barbulae di puncak.
2.
Plumulae, Berbentuk berbentuk hampir sama dengan filoplumae dengan
perbedaan detail.
3.
Plumae, Bulu yang sempurna.
4.
Barbae
5.
Barbulae, Ujung dan sisi bawah tiap barbulae memiliki
filamen kecil disebut barbicels yang berfungsi membantu menahan barbula yang
saling bersambungan.
Susunan plumae terdiri dari :
1.
Shaft (tangkai), yaitu poros utama bulu.
2.
Calamus, yaitu tangkai pangkal bulu.
3.
Rachis, yaitu lanjutan calamus yang merupakan sumbu bulu
yang tidak berongga di dalamnya. Rachis dipenuhi sumsum dan memiliki jaringan.
4.
Vexillum, yaitu bendera yang tersusun atas barbae yang
merupakan cabang-cabang lateral dari rachis.
5.
Lubang pada pangkal calamus disebut umbilicus
inferior, sedangkan lubang pada ujung calamus disebut umbilicus superior. Bulu
burung pada saat menetas disebut neossoptile, sedangkan setelah dewasa disebut
teleoptile.
Menurut letaknya, bulu aves dibedakan menjadi:
1.
Tectrices, bulu yang menutupi badan.
2.
Rectrices, bulu yang berada pada pangkal ekor, vexilumnya
simetris dan berfungsi sebagai kemudi.
3.
Remiges, bulu pada sayap yang dibagi lagi menjadi:
4.
Remiges primarie yang melekatnya secara digital pada digiti
dan secara metacarpal pada metacarpalia.
5.
Remiges secundarien yang melekatnya secara cubital pada
radial ulna.
6.
Remiges tertier yang terletak paling dalam nampak sebagai
kelanjutan sekunder daerah siku.
7.
Parapterum, bulu yang menutupi daerah bahu.
8.
Ala spuria, bulu kecil yang menempel pada ibu jari (Jasin,
1984).
Pada
burung heron terdapat bentukan bulu yang khusus yang disebut sebagai bulu
powder/ bulu bubuk. Bulu ini hampir sama dengan bulu pada umumnya tetapi
barbulaenya terpisah menjadi bubuk halus seperti bedak. Fungsi bulu ini belum
jelas, tetapi pada saat burung melumasi bulu dengan cara menjilatinya, bulu
bubuk membantu mengisolasi panas tubuh dan membantu menghangatkan telur saat
pengeraman.
Semi plumae adalah kumpulan bulu barbula yang letaknya tersembunyi
di bawah bulu-bulu luar. Bistle adalah bulu perasa berupa shaft yang memanjang
melebihi bulu luar, ditemukan pada kepala burung Caprimulgids dan
burung penangkap serangga flycatchers (Sukiya, 2003). Bristle yang menutupi
lubang hidung terdapat pada burung pelatuk. Hal ini merupakan bentuk adaptasi
burung pelatuk agar partikel-partikel kayu tidak masuk saluran pernafasan.
Bristle pada burung hantu dan caprimulgids membantu mendeteksi posisi sarang,
tempat bertengger dan benda yang menghalangi. Fungsi bristle didukung oleh
adanya getaran dan tekanan reseptor didekat folikel bulu (Sukiya, 2003).
Bentuk
bulu ekor burung pada saat tidak terbang bermacam-macam, antara lain berbentuk
persegi, bertakik, bercabang, bulu sebelah luar memanjang, bulu ekor dengan
raket, bulu tengah panjang, bundar, berbentuk cakram, berbentuk tingkatan, dan
berujung runcing (Sukiya, 2003).
b.
Warna Bulu
Warna
bulu dihasilkan oleh butir pigmen, dengan difraksi dan refleksi cahaya oleh
struktur bulu atau oleh pigmen dan struktur bulu. Pigmen pokok yang menimbulkan
warna pada bulu adalah melanin dan karotenoid. Karotenoid sering disebut dengan
lipokrom yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam metanol, eter atau
karbon disulfida. Karotenoid terbagi menjadi 2, yaitu zooeritrin (animal red)
dan zoosantin (animal yellow). Pigmen melanin terklarut dalam asam. Butir-butir
eumelanin beraneka macam yaitu dari hitam sampai coklat gelap. Feomelanin yaitu
hampir tanpa warna hingga coklat kemerahan.
Butir-butir
melanin bulat di dekat ujung bulu luar memberikan efek ringNewton dan
menyebabkan perubahan warna-warni bulu. Warna hijau, biru dan violet tidak
dihasilkan oleh pigmen tetapi tergantung dari struktur bulu. Contohnya burung
bluebird yang bulunya berwarna biru tetapi tidak mengandung pigmen warna biru.
Warna ini ditimbulkan oleh pigmen kuning yang menyerap semua spektrum sinar
kemudian dipantulkan kembali. Burung tropis pemakan pisang memiliki pigmen
tembaga berupa turacoverdin yang mampu menghasilkan warna merah gelap
dihasilkan oleh turacin (Sukiya 2003).
Salah
satu spesies burung pemakan pisang ini adalah Tauraco corythaix, mempunyai
kuning telur berwarna merah terang yang ditimbulkan oleh karotenoid dan 60%
dari pigmen merah yang disebut astasantin.
Meski
warna bulu burung adalah genetis, namun dapat berubah akibat faktor internal
maupun eksternal. Burung yang dikurung dalam waktu lama juga dapat berubah
warna bulunya. Hal ini dapat disebabkan karena makanannya. Faktor internal yang
mempengaruhi warna bulu adalah hormon. Spesies burung terdapat dimorfisme warna
dalam seksual. Pengaturan hormon estrogen banyak berperan pada burung jantan,
yaitu sebelum hingga awal pergantian bulu. Sedangkan pada burung betina
kemungkinan diinduksi oleh bulu burung jantan dengan pengaturan testosteron.
Faktor
eksternal yang dapat mempengaruhi perubahan warna adalah oksidasi dan
gesekan/abrasi. Warna yang ditimbulkan karoten dapat memudar karena sinar
matahari.
c.
Aransemen Bulu
Bulu-bulu
burung sebenarnya tidak merata, tetapi dirancang pada bidang-bidang terbatas
yang disebut pterilae dan ada bidang kecil yang tidak ditumbuhi bulu
disebut apterile. Pengecualian pada penguin dan burung kiwi yang bulunya
menutupi hampir sebagian besar tubuhnya. Bulu burung dapat dinamai sesuai
dengan bidangnya berada, yaitu:
1.
capital tract yaitu bulu yang menutup bagian atas,
samping dan belakang kepala dan terus ke pterilae berikutnya.
2.
Spinal tract, bulu yang memanjang dari atas leher ke
punggung terus ke dasar ekor dan bisa berlanjut atau terpisah ditengah.
3.
Ventral tract, berawal diantara cabang rahang bawah dan
memanjang turun ke sisi ventral leher. Biasanya bercabang menjadi dua bidang
lateral melewati sepanjang sisi tubuh dan berakhir disekitar anus. Bagian apterilae
dadabawah dan perut beberapa burung, kaya pembuluh darah selama bersarang dan
merupakan daerah mengeram (brood patch). Pada saat mengeram bulu pada
brood patch akan rontok dan kulitnya tipis.
4.
Humeral tract yaitu sepasang pterilae yang sejajar
seperti pita sempit yang meluas ke belakang pada sisi pundak.
5.
Caudal tract termasuk retrices, bulu pada ekor,
biasanya panjang dan kuat.
6.
Alar tract termasuk berbagai pterilae yang terletak
pada sayap. Thumb merupakan sisa jari kedua. Sedangkan bulu yang menutupi
permukaan atas dan bawah sayap disebut dngan covert dan bulu pada aksial sayap
disebut aksillaria.
7.
Femoral tract, bulu yang meluas sepanjang permukaan luar
paha dekat sendi lutut ke tubuh.
8.
Crural tract, bulu yang menyususn sisa bidang bulu lainnya
pada kaki (Sukiya, 2003).
d.
Pergantian Bulu
Bulu
burung terbentuk dari struktur tak hidup sehingga mudah kusut akibat oksidasi
dan gesekan. Bulu-bulu yang telah lama akan lepas secara periodik dan
digantikan oleh bulu yang baru. Pelepasan dan pergantian bulu ini disebut
denganmolting. Pergantian bulu terjadi pada waktu tertentu dalam satu tahun dan
diselesaikan dalam satu periode (selama beberapa minggu).
Umumnya
burung mengalami pergantian bulu sekali dalam satu tahun, tetapi burung kolibri
betina mengalami pergantian bulu sekali dalam dua tahun.Pergantian bulu
biasanya terjadi sebelum atau sesudah perkembangbiakan. Namun ada juga yang
mengalami pergantian bulu parsial oleh sebab tertentu. Pergantian bulu burung
dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain faktor fisiologis yaitu adanya
hormon tiroksin.
Sempurnanya
bulu setiap spesies burung sejak menetas sampai dewasa berbeda-beda. Ada
beberapa spesies burung yang pada saat menetas telanjang /tidak memiliki bulu.
Bulu pada saat menetas disebut dengan natal plumage. Sebagian besar spesies
burung memiliki jumlah bulu bervariasi pada saat menetas, hanya beberapa deret
bulu pada spesies altrical (misalnya merpati) atau seluruh tubuh
tertutup bulu pada burung precocial muda (misal ayam). Bulu saat
menetas akan rontok dan diganti yang baru, sebagai berikut:
1.
Juvenal plumage (bulu anak burung), lebih
substansial dari natal plumage. Pada burung passerine hanya bertahan beberapa
minggu lalu rontok dan diganti bulu first winter plumage.
2.
First winter plumage (bulu ketika berusia satu
tahun), diperoleh pada akhir musim panas atau musim gugur dan bertahan selama
12 bulan, tergantung dari spesiesnya.
3.
First nuptial plumage (bulu kawin pertama), bulu
perkembangbiakan pertama yang akan rontok sebagai akibat pergantian bulu
setelah masa kawin pertama.
4.
Second winter plumage (bulu tahun kedua), dapat
dibedakan dengan bulu dewasa pada musim dingin kecuali spesies yang memperoleh
bulu dewasa pada tahun pertama atau lebih dari dua tahun. Bulu ini akan
diganti oleh bulu masa kawin kedua pada musim semi berikutnya.
Warna bulu burung jantan dan betina dari sejumlah spesies
adalah identik tetapi masih dapat dibedakan karena secara mayoritas warna bulu
burung jantan lebih cerah terutama bulu masa kawin. Namun pada pejantan itik
tertentu, setelah musim bersarang, hasil pergantian bulu setelah kawin, warna
bulunya menjadi pudar abu-abu kemerahan dan bulu sayapnya lepas sehingga untuk
sementara tidak dapat terbang. Oleh karenanya, itik jantan ketika masa ini
menjadi tidak menarik.
Dari beberapa divinisi dan ciri aves di atas, merupakan
gambaran umum tentang aves yang perlu kita ketahui baik morfologi maupun
anatominya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.
KELAS-KELAS AVES
Kelas burung (Class: Aves) pula dibagi menjadi beberapa jenis seperti berikut:
Kelas burung (Class: Aves) pula dibagi menjadi beberapa jenis seperti berikut:
- Struthioniformes, Burung Unta,
Kesuari, Emu, Kiwi, dan sejenisnya.
- Tinamiformes, Tinamou
- Anseriformes, Itik, Angsa,
Joyinah dan sejenisnya.
- Galliformes, Ayam, Kuang dan
sejenisnya.
- Sphenisciformes, Penguin
- Gaviiformes, Loon
- Podicipediformes, Greb
- Procellariiformes, Albatros,
Petral dan sejenisnya.
- Pelecaniformes, Undan dan
sejenisnya.
- Ciconiiformes, Burung Botak,
upih dan sejenisnya.
- Phoenicopteriformes, Flamingo
- Accipitriformes, Elang dan
sejenisnya.
- Falconiformes, Falko
- Turniciformes, Puyuh
- Gruiformes, Keria, Sintar dan
sejenisnya.
- Charadriiformes, Rapang, Kedidi
dan sejenisnya.
- Pteroclidiformes, sandgrouse
- Columbiformes, Merpati, Pergam,
Punai dan sejenisnya.
- Psittaciformes, Nuri, Bayan,
Kakaktua dan sejenisnya.
- Cuculiformes, Burung Mati Anak,
Cenuk, Bubut dan sejenisnya.
- Strigiformes, Burung Hantu
- Caprimulgiformes, Burung Tukang
dan sejenisnya.
- Apodiformes, Layang-layang dan
Burung Madu.
- Coraciiformes, Pekaka,
Barak-barak dan sejenisnya.
- Piciformes, Belatuk dan
sejenisnya.
- Trogoniformes, kesumba
- Coliiformes, mousebird
- Passeriformes, ciak, Pipit dan
sejenisnya.
Fase
peralihan:
Bentuk peralihan diantara kedua fase gelap dan terang,terutama terlihat pada pola warna coretan dan garis (tetapi lebih mirip fase terang); garis hitam pada ekor dan sayap tidak teratur serta garis-garis coklat kemerahan melintang pada perut bagian bawah. Iris kuning sampai cokelat, paruh kehitaman, sera kuning kehitaman, kaki kuning kehijauan.
Pertama Elang Ular Bido atau bahasa inggrisnya Crested Serpent Eagle
Elang Ular Bido:
Elang ini berwarna hitam dengan garis putih di ujung belakang sayap, terlihat disaat terbang seperti garis yang tebal. Sayap menekuk ke atas (seperti Elang Jawa) dan kedepan, membentuk huruf C yang terlihat membusur. Ciri khas lainnya adalah kulit kuning tanpa bulu di sekitar mata hingga paruh.
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Aves
Order: Falconiformes (or Accipitriformes, q.v.)
Family: Accipitridae
Genus: Haliastur
Species: H. indus
Bentuk peralihan diantara kedua fase gelap dan terang,terutama terlihat pada pola warna coretan dan garis (tetapi lebih mirip fase terang); garis hitam pada ekor dan sayap tidak teratur serta garis-garis coklat kemerahan melintang pada perut bagian bawah. Iris kuning sampai cokelat, paruh kehitaman, sera kuning kehitaman, kaki kuning kehijauan.
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Aves
Order : Accipitriformes
Family : Accipitridae
Genus : Spizaetus
Species : Spizaetus cirrhatus
Phylum : Chordata
Class : Aves
Order : Accipitriformes
Family : Accipitridae
Genus : Spizaetus
Species : Spizaetus cirrhatus
Pertama Elang Ular Bido atau bahasa inggrisnya Crested Serpent Eagle
Elang Ular Bido:
Elang ini berwarna hitam dengan garis putih di ujung belakang sayap, terlihat disaat terbang seperti garis yang tebal. Sayap menekuk ke atas (seperti Elang Jawa) dan kedepan, membentuk huruf C yang terlihat membusur. Ciri khas lainnya adalah kulit kuning tanpa bulu di sekitar mata hingga paruh.
Kedua Elang Bondol ato Bahasa Inggrisnya
Brahminy Kite
Elang Bondol:
Elang Bondol atau Brahminy Kite (Haliastur indus), juga dikenal sebagai the red-backed sea-eagle yaitu Burung Elang Laut yang bagian belakangnya berwarna merah dan kepala sampai leher berwarna putih, merupakan sejenis burung buas atau burung pemangsa yang berukuran sedang dari famili Accipitridae. Elang Bondol ini juga sering terlihat di langit India, Pakistan, Banglades, dan asia tenggara dan juga bagian selatan new south wales, Australia, melalui daerah yang mana merupakan daerah penyebaran Elang bondol.
Elang Bondol:
Elang Bondol atau Brahminy Kite (Haliastur indus), juga dikenal sebagai the red-backed sea-eagle yaitu Burung Elang Laut yang bagian belakangnya berwarna merah dan kepala sampai leher berwarna putih, merupakan sejenis burung buas atau burung pemangsa yang berukuran sedang dari famili Accipitridae. Elang Bondol ini juga sering terlihat di langit India, Pakistan, Banglades, dan asia tenggara dan juga bagian selatan new south wales, Australia, melalui daerah yang mana merupakan daerah penyebaran Elang bondol.
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Aves
Order: Falconiformes (or Accipitriformes, q.v.)
Family: Accipitridae
Genus: Haliastur
Species: H. indus
SISTEM
REPRODUKSI AVES
Kelompok burung
merupakan hewan ovipar. Walaupun kelompok burung tidak memiliki alat kelamin
luar, fertilisasi tetap terjadi di dalam tubuh. Hal ini dilakukan dengan cara
saling menempelkan kloaka.
1.
Sistem Genitalia Jantan.
a.
Testis
berjumlah sepasang, berbentuk oval atau bulat, bagian permukannya licin,
terletak di sebelah ventral lobus penis bagian paling kranial. Pada musim kawin
ukurannya membesar. Di sinilah dibuat dan disimpan spermatozoa.
b.
Saluran
reproduksi. Tubulus mesonefrus membentuk duktus aferen dan epididimis. Duktus
wolf bergelung dan membentuk duktus deferen. Pada burung-burung kecil, duktus
deferen bagian distal yang sangat panjang membentuk sebuah gelendong yang
disebut glomere. Dekat glomere bagian posterior dari duktus aferen berdilatasi
membentuk duktus ampula yang bermuara di kloaka sebagai duktus
ejakulatori.duktus eferen berhubungan dengan epididimis yang kecil kemudian
menuju duktud deferen. Duktus deferen tidak ada hubungannya dengan ureter ketika
masuk kloaka.
2.
Sistem Genitalia Betina.
a.
Ovarium. Selain
pada burung elang, ovarium aves yang berkembang hanya yang kiri, dan terletak
di bagian dorsal rongga abdomen.
b.
Saluran
reproduksi, oviduk yang berkembang hanya yang sebelah kiri, bentuknya panjang,
bergulung, dilekatkan pada dinding tubuh oleh mesosilfing dan dibagi menjadi
beberapa bagian; bagian anterior adalah infundibulumyang punya bagian terbuka
yang mengarah ke rongga selom sebagai ostium yang dikelilingi oleh
fimbre-fimbre. Di posteriornya adalah magnum yang akan mensekresikan albumin,
selanjutnya istmus yang mensekresikan membrane sel telur dalam dan luar. Uterus
atau shell gland untuk menghasilkan cangkang kapur.
3.
Proses Festilisasi
Pada burung betina hanya ada satu ovarium, yaitu ovarium kiri. Ovarium kanan tidak tumbuh sempurna dan tetap kecil yang disebut rudimenter. Ovarium dilekati oleh suatu corong penerima ovum yang dilanjutkan oleh oviduk. Ujung oviduk membesar menjadi uterus yang bermuara pada kloaka. Pada burung jantan terdapat sepasang testis yang berhimpit dengan ureter dan bermuara di kloaka.
Fertilisasi
akan berlangsung di daerah ujung oviduk pada saat sperma masuk ke dalam oviduk.
Ovum yang telah dibuahi akan bergerak mendekati kloaka. Saat perjalanan menuju kloaka
di daerah oviduk, ovum yang telah dibuahi sperma akan dikelilingi oleh materi
cangkang berupa zat kapur.
Telur dapat
menetas apabila dierami oleh induknya. Suhu tubuh induk akan membantu
pertumbuhan embrio menjadi anak burung. Anak burung menetas dengan memecah
kulit telur dengan menggunakan paruhnya. Anak burung yang baru menetas masih
tertutup matanya dan belum dapat mencari makan sendiri, serta perlu dibesarkan
dalam sarang.
4.
Fungsi bagian-bagian telur aves :
a.
Titik embrio
--> bagian yang akan berkembang menjandi embrio
b.
Kuning telur
--> cadangan makanan embrio
c.
Kalaza -->
menjaga goncangan embrio
d.
Putih telur
--> menjaga embrio dari goncangan
e.
Rongga udara
--> cadangan oksigen bagi embrio
f.
Amnion
--> Amnion adalah semacam membran/selaput yang melindungi embrio dalam
telur. Yang memiliki amnion telur adalah reptilia, unggas, dan mamalia sehingga
ketiga kelas ini disebut “amniota”. Amnion telur tidak terdapat pada ikan dan
amphibia, sehingga dua kelas ini disebut “anamniota”.
Organ pernafasan
a.
Menggunakan
paru-paru (pulmo) yangberhubungan langsung dengan kantungudara (sakus
pneumatikus) yang umumnyaberjumlah sembilan buah.
b.
Paru-paru
berjumlah sepasang.
c.
Terletak
dalam rongga dada yang dilindungitulang rusuk (interkosta).
Fungsi Kantung Udara (Sakus Pneumatikus)
a.
Membantu
pernafasan terutama saatterbang.
b.
Menyimpan
cadangan udara (oksigen)
c.
Memperbesar
atau memperkecil berat jenispada saat burung terbang.
d.
Mencegah hilangnya panas tubuh yangterlalu banyak
Jalur Pernafasan
a.
Udara
masuk melalui lubang hidung (cavum nasalis).
b.
Udara
lalu diteruskan pada celah tekak pada dasar faring yangberhubungan dengan
trakea.
c.
Trakea
bercabang dua yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri.
d.
Bronkus
bercabang lagi menjadi mesobronkus yang dapatdibedakan jadi ventrobronkus dan
dorsobronkus.
e.
Ventrobronkus
dan dorso bronkus dihubungkan olehparabronkus berupa tabung kecil yang
mengandung banyak kapiler sehingga memungkinkan udara berdifusi.
Mekanisme inspirasi dan ekspirasi
·
Inspirasiudara
kaya oksigen masukke paru-paru, otot antarainterkosta berkontraksisehingga
tulang rusukbergerak ke luar dan tulangdada membesar. Akibatnyatekanan udara dadamenjadi kecil sehinggaudara luar yang kayaoksigen masuk. Udara
yangmasuk sebagian kecil kecilmenuju paru-paru dansebagian besar menujukantung udara sebagaicadangan udara.
·
EkspirasiOtot
interkostaberelaksasi sehinggatulang rusuk
dan tulangdada kembali ke posisisemula. Akibatnyarongga dada mengecildan tekanannyamenjadi
lebih besar daripada tekanan udaraluar.
Ini menyebabkanudara dari paru-paruyang
kayakarbondioksida ke luar.
Jalur Pernapasan Burung
Pada burung, tempat berdifusinya
udara pernapasan terjadi di paru-paru. Paru-paru burung berjumlah sepasang dan
terletak dalam rongga dada yang dilindungi oleh tulang rusuk.
Jalur pernapasan (masuknya udara ke dalam tubuh) pada burung berturut-turut sebagai berikut.
1) Dua pasang lubang hidung yang terdapat pada pangkal paruh sebelah atas dan pada langit-langit rongga mulut.
2) Celah tekak yang terdapat pada dasar hulu kerongkongan atau faring yang menghubungkan rongga mulut dengan trakea.
3) Trakea atau batang tenggorok yang panjang, berbentuk pipa, dan disokong oleh cincin tulang rawan.
4) Sepasang paru-paru berwarna merah muda yang terdapat dalam rongga dada.
Jalur pernapasan (masuknya udara ke dalam tubuh) pada burung berturut-turut sebagai berikut.
1) Dua pasang lubang hidung yang terdapat pada pangkal paruh sebelah atas dan pada langit-langit rongga mulut.
2) Celah tekak yang terdapat pada dasar hulu kerongkongan atau faring yang menghubungkan rongga mulut dengan trakea.
3) Trakea atau batang tenggorok yang panjang, berbentuk pipa, dan disokong oleh cincin tulang rawan.
4) Sepasang paru-paru berwarna merah muda yang terdapat dalam rongga dada.
Bagian ini meliputi bronkus kanan dan bronkus
kiri yang merupakan cabang bagian akhir dari trakea. Dalam bronkus pada pangkal
trakea, terdapat sirink (siring), yang pada bagian dalamnya terdapat lipatan-lipatan
berupa selaput yang dapat bergetar dan dapat menimbulkan suara. Bronkus
bercabang lagi menjadi mesobronkus, yang merupakan bronkus sekunder, dan dapat
dibedakan menjadi ventrobronkus (bagian ventral) dan dorsobronkus (bagian
dorsal). Ventrobronkus dihubungkan dengan dorsobronkus oleh banyak parabronkus
(100 atau lebih). Parabronkus berupa tabung kecil. Di parabronkus bermuara
banyak kapiler, sehingga memungkinkan udara berdifusi.
Alat Pernapasan Burung
Selain
paru-paru, burung biasanya memiliki 4 pasang perluasan paru-paru yang disebut
pundi-pundi hawa atau kantung udara (saccus pneumaticus) yang menyebar sampai
ke perut, leher, dan sayap. Kantung-kantung udara ini terdapat pada pangkal
leher (saccus cervicalis), rongga dada (saccus thoracalis anterior dan
posterior), antara tulang selangka atau korakoid (saccus interclavicularis),
ketiak (saccus axillaris), dan di antara lipatan usus atau rongga perut (saccus
abdominalis). Kantung udara berhubungan dengan paru-paru, berselaput tipis, tetapi
tidak terjadi difusi udara pernapasan. Adanya kantung udara mengakibatkan,
pernapasan pada burung menjadi efisien.
Kantung
udara memiliki beberapa fungsi berikut.
1) Membantu pernapasan, terutama pada waktu terbang, karena menyimpan oksigen cadangan.
2) Membantu mempertahankan suhu badan dengan mencegah hilangnya panas badan secara berlebihan.
3) Membantu memperkeras suara dengan memperbesar ruang siring.
4) Mengatur berat jenis (meringankan) tubuh pada saat burung terbang.
1) Membantu pernapasan, terutama pada waktu terbang, karena menyimpan oksigen cadangan.
2) Membantu mempertahankan suhu badan dengan mencegah hilangnya panas badan secara berlebihan.
3) Membantu memperkeras suara dengan memperbesar ruang siring.
4) Mengatur berat jenis (meringankan) tubuh pada saat burung terbang.
Mekanisme Pernapasan pada Burung
Mekanisme pernapasan pada burung dibedakan menjadi dua, yaitu pernapasan waktu istirahat dan pernapasan waktu terbang.
Pada waktu istirahat, tulang rusuk bergerak ke depan, rongga dada membesar, paru-paru mengembang sehingga udara masuk dan mengalir lewat bronkus ke kantung udara bagian belakang, bersamaan dengan itu udara yang sudah ada di kantung udara belakang mengalir ke paru-paru dan menuju kantung udara depan. Pada saat tulang rusuk kembali ke posisi semula, rongga dada mengecil sehingga udara dari kantung udara masuk ke paru-paru. Selanjutnya, saat di alveolus, O2 diikat oleh darah kapiler alveolus. Jadi, pengikatan O2 berlangsung pada saat inspirasi maupun ekspirasi
Pada waktu terbang, inspirasi dan ekspirasi dilakukan oleh kantung-kantung udara. Waktu sayap diangkat ke atas, kantung udara di ketiak mengembang, sedang kantung udara di tulang korakoid terjepit, sehingga terjadi inspirasi (O2 pada tempat itu masuk ke paru-paru). Bila sayap diturunkan, kantung udara di ketiak terjepit, sedang kantung udara di tulang korakoid mengembang, sehingga terjadi ekspirasi (O2 pada tempat itu keluar). Makin tinggi burung terbang, makin cepat burung mengepakkan sayapnya untuk mendapatkanoksigen yang cukup banyak.
Udara luar yang masuk, sebagian kecil tetap berada di paru-paru, dan sebagian besar akan diteruskan ke kantung udara sebagai udara cadangan. Udara pada kantung udara dimanfaatkan hanya pada saat udara (O2) di paru-paru berkurang, yakni saat burung sedang mengepakkan sayapnya.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Jadi aves
merupakan evolusi segala reftilia (radiasi reotilia) karena aves memiliki kelas
tersendiri dalam kingdom animalia.
Tujuannya
adalah mengetahui dan memahami defenisi dan unsur- unsur aves ini yang memiliki
karakteristik tengkorak yang berfusi kuat paruh berzat tanduk, aves tidak
bergigi, mata besar, dan kondil oksipetal tunggal contoh : burung penguin.
B.
SARAN
Berdasarkan dari
hasil kesimpulan diatas, maka penulis memberikan saran agar kita lebih mengerti
dan memahami tentang aves ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua amiennnn.




0 komentar:
Posting Komentar