RSS Feed

Kamis, September 26, 2013

Annelida


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Annelida (dalam bahasa latin, annulus = cincin) atau cacing gelang adalah kelompok cacing dengan tubuh bersegmen. Berbeda dengan Platyhelminthes dan Nemathelminthes, Annelida merupakan hewan tripoblastik yang sudah memiliki rongga tubuh sejati (hewan selomata), namun Annelida merupakan hewan yang struktur tubuhnya paling sederhana.




Filum Annelida merupakan cacing selomata berbentuk gelang yang memiliki tubuh memanjang, simetri bilateral, bersegmen, dan permukaannya dilapisi kutikula, dinding tubuh dilengkapi otot, memiliki prostomium dan sistem sirkulasi, saluran pencernaan lengkap, sistem ekskresi sepasang nefridia di setiap segmen, sistem syaraf tangga tali, sistern respirasi terdapat puda epidermis, reproduksi monoesis atau diesis dan larvanya trokofor atau veliger. Kebanyakan cacing Annelida hidup akuatik di laut dan terestrial di air tawar atau darat.
Cacing-cacing anggota filum ini tubuhnya beruas-ruas, beberapa organ (misalnya pencernaan) membentang sepanjang tubuh, organ yang lain seperti saluran pembuangan, ada di setiap ruas.  Annelida mempunyai rongga tubuh atau coelem, rongga ini tidak saja berisi organ-organ yang terbentuk dari mesoderm tetapi juga dilapisi oleh lapisan mesoderm. Annelida merupakan hewan simetris bilateral, mempunyai sistem peredaran darah yang tertutup dan sistem syaraf yang tersusun seperti tangga tali. Pembuluh darah yang utam membujur sepanjang bagian dorsal sedangkan sistem syaraf terdapat pada bagian ventral.
Phylum Annelida dibagi menjadi kelas Polychaeta, Oligochaeta, Archiannelida, Echiroidea dan Hirudinea. pembagian ke dalam kelas terutama didasarkan pada segmentasi tubuh. seta, parapodium, sistem sirkulasi, ada tidaknya batil isap, dan sistem reproduksi. Telah diketemukan 12.000 species yang hidup di air tawar, laut dan tanah. Contoh spesies annelida yang terkenal adalah cacing tanah (Lumbricus sp.)cacing ini hidup di tanah, makanannya berupa sisa tumbuhan dan hewan. Charles Darwin ahli biologi yang termahsur adalah orang yang pertama kali menyatakan bahwa cacing tanah mempunyai peranan yang penting dalam menggemburkan tanah.  Karena hidup di dalam tanah, cacing ini membuat liang-liang sehingga tanah menjadi berpori dan mudah diolah.
Cacing tanah juga mencampur dedaunan dengan tanah, jadi menaikan kandungan humus tanah. Sebagian besar anelida hidup dilaut, yaitu diliang-liang atau dibawah karang yang dekat dengan pantai, misalnya neries. Golongan lain dari annelida yang banyak dikenal adalah lintah pengisap darah. Lintah mempunyai balik penghisap dikedua ujung badanya. Batil penghisap posterior dipergunakan untuk melekatkan diri pada inang, sedangkan batil penghisap anterior dipergunakan untuk menghisap darah.






B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang akan di bahas adalah:
1.      Apa saja ciri-ciri annelida?
2.      Bagaimana morfologi annelida?
3.      Bagaimana fisiologi annelida?
4.      Bagaimana habitat annelida?
5.      Apa saja klasifikasi annelida?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui ciri-ciri annelida
2.      Untuk mengetahui morfologi annelida
3.      Untuk mengetahui fisiologi annelida
4.      Untuk mengetahui habitat annelida
5.      Untuk mengetahui klasifikasi annelida



BAB II
PEMBAHASAN
1.  CIRI-CIRI UMUM
Tubuh hewan Annelida bilateral simetris, panjang, dan jelas bersegmen-segmen, serta memiliki alat gerak yang berupa rambut-rambut kaku (setae) pada tiap segmen. Polychaeta dengan tentakel pada kepalanya dan setae pada bagian-bagian tubuh yang menonjol ke lateral, atau pada lobi leteralis yang disebut parapodia. Tubuh tertutupi kutikula yang licin yang terletak diatas epithelium yang bersifat granduler. Dinding tubuh dan saluran pencernaan dengan lapisan-lapisan otot sirkuler dan longitudinal; sudah mempunyai rongga tubuh (coelom) dan umumnya terbagi oleh septa; saluran pencernaan lengkap; tubuler, memanjang sesuai dengan sumbu tubuh. Sistem cardiovasculare adalah system tertutup, pembuluh-pembuluh darah membujur, dengan cabang-cabang kecil (kapiler) pada tiap segmen (metamer); plasma darah mengandung hemoglobin. Respirasi dengan kulit, atau dengan branchia. Organ ekskresi terdiri atas sepasang nephridia pada tiap segmen. System nervosum terdiri atas sepasang ganglia cerebrales pada ujung dorsal otak, yang berhubungan dengan berkas saraf medio-ventral yang memanjang sepanjang tubuh, dengan ganglia pada tiap segmen; terdapat juga sel-sel tangoreceptor dan photoreceptor. Kebanyakan bersifat hermafrodit dan perkembangan melalui stadium larva. Reproduksi dengan membentuk tunas terjadi pada beberapa spesies. Contohnya Lumbricus terrestris (cacing tanah).
2.  FISIOLOGI
A.    Sistem Gerak
Dinding cacing tanah mempunyai 2 lapis otot, yaitu: stratum circulare, adalah lapisan otot sebelah luar dan stratum longitudinal, lapisan otot sebelah dalam. Jika musculi berkontraksi akan menimbulkan gerakan menggelombang dari cacing tanah itu sehingga ia bergerak. Dinding intestine juga mempunyai lapisan otot, yaitu stratum longitudinal. Jika otot ini berkontraksi, akan menimbulkan gerak peristaltic yang dapat mendorong makanan dalam saluran pencernaan dan mendorong keluar sisa-sisa pencernaan.
Setae digerakkan oleh 2 berkas otot, yaitu: musculus protactor, yang mendorong setae keluar, dan musculus retractor, yang menarik kembali setae masuk ke dalam rongganya. Kedua berkas musculus ini melekat pada ujung-ujung dalam dari setae. Jadi cacing tanah bergerak dengan setae dan kontaksi otot-otot dinding tubuh.
B.     Sistem Respirasi
Cacing tanah bernapas dengan kulitnya, sebab kulitnya bersifat lembab, tipis, banyak mengandung kapiler-kapiler darah.
C.    Sistem Pencernaan Makanan
Saluran pencernaan makanan cacing tanah sudah lengkap dan sudah terpisah dari system cardiovasculare. Saluran pencernaan terdiri atas: mulut, pharynx, esophagus, proventriculus, ventriculus, intestine, dan anus.
Mulut cacing tanah terletak di dalam rongga oris atau rongga buccale. Pharynx terdapat di dalam segmen ke-4 dan ke-5, bersifat muscular dan berguna untuk menghisap partikel-partikel makanan. Esophagus terletak di ujung pharynx memanjang dari segmen ke-6 sampai segmen ke-14. Proventriculus merupakan bagian ujung asophagus yang membesar, dan di bagian ini makanan disimpan; dinding proventriculus tipis. Ventriculus merupakan lanjutan ke arah belakang dari proventriculus, terletak di dalam segmen ke-17 dan ke-18, bersifat muscular dan berguna untuk mencernakan makanan. Intestine adalah merupakan lanjutan ke ujung dari venriculus. Dinding intestine bagian dorsal melekuk ke dalam lumen intestine dan bagiam ujung lekukan ini membesar, sehingga terjadilah bangunan seperti kantong. Bagian ini disebut typhosole. Typhosole ini berguna untuk memperluas permukaan intestine, sehingga dapat mengabsorbsi sari-sari makanan lebih banyak.
Makanan cacing tanah terdiri atas sisa-sisa hewan dan tanaman. Cacing-cacing tanah itu mencari makanannya diluar liang; pada saat malam hari. Makanan diambil melalui mulutnya. Makanan di dalam esophagus tercampur dengan cairan hasil sekresi kelenjar kapur yang terdapat pada dinding esophagus itu. Cairan ini bersifat alkalis, tetapi fungsinya yang tepat belum dapat diketahui. Mungkin cairan ini menetralkan makanan-makanan yang bersifat asam. Dari esophagus, makanan terus masuk ke dalam proventriculus yang merupakan tempat penyimpanan makanan bersifat sementara.
Selanjutnya makanan masuk kedalam ventriculus. Disini makanan dicernakan menjadi partikel-partikel halus. Dari ventriculus, kemudian partikel-partikel makanan ini masuk ke dalam intestine. Di dalam intestine, partikel-partikel makanan akan dicernakan lebih lanjut, sehingga menjadi substansi-sunstansi yang lebih kecil, yang dapat diabsorpsi oleh dinding intestine tersebut. Dindind intestine mengandung kelenjar-kelenjar yang menghasilkan enzim-enzim. Karena pengaruh enzim-enzim ini, partikel-partikel makanan tadi dicernakan menjadi monosakarida, asam lemak dan gliserol, dan asam amino yang siap untuk diabsorpsi.
Senyawa-senyawa monosakarida, asam lemak dan gliserol, dan asam amino diabsorpsi oleh dinding intestine dan selanjutnya bersama-sama dengan sirkulasi darah diangkut keseluruh bagian-bagian tubuh. Pada saat cacing tanah mengambil makanan melalui mulutnya, ikut juga termakan sejumlah partikel-partikel tanah. Kemudian sisa-sisa makanan beserta partikel-partikel tadi dikeluarkan melalui anus dan diletakkan diatas permukaan tanah dekat lubang dari liang tempat cacing tersebut berada. Sisa-sisa ini berbentuk kelompok-kelompok kecil dari partikel-partikel tanah.
D.    Sistem Sirkulasi
System sirkulasi cacing tanah adalah system peredaran darah tertutup. Darah terdiri atas bagian cair yang disebut plasma, dan sel-sel darah atau korpuskula. Korpuskula terdapat didalam plasma darah. Eritrosit mengandung hemoglobin; yang mempunyai kemampuan mengikat oksigen. Pembuluh-pembuluh darah terdiri atas: aorta dorsalis, aorta ventralis.
Aorta dorsalis terletak disebelah dorsal saluran pencernaan dan mudah terlihat dari luar pada cacing yang hidup sebab kulit tubuh cacing sedikit transparent. Jantung cacing mengelilingi esophagus dan berhubungan dengan aorta ventralis, yang terletak disebelah ventral saluran pencernaan dan di sebelah dorsal truncus nervosus. Disamping kedua aorta tersebut masih ada 3 pembuluh darah, ialah 2 pembuluh yang masing-masing terletak di lateral truncus nervosus dan 1 pembuluh disebelah ventral truncus tersebut.
Darah berfungsi mengangkut sari-sari makanan, oksigen, sisa-sisa metabolism, dan substansi-substansi lain.
E.     Sistem Ekskresi
System ekskresi cacing tanah berupa nephridia (nephridios=ginjal). Tiap nephridium terdiri atas: suatu bangunan berbentuk corong dan bersilia yang disebut: nephrostoma, dan saluran atau pipa yang berkelok-kelok. Jika silia itu bergetar, mereka menimbulkan aliran cairan tubuh, yang mengandung sisa-sisa metabolism dari coelom masuk ke dalam saluran ekskresi. Kemudia cairan keluar dari tubuh cacing melalui nephridioporus, yaitu sebuah lubang kecil yang merupakan muara keluar dari saluran ekskresi dan terletak pada permukaan ventral tubuhcacing. Diantara nephrostoma dan saluran ekskresi terdapat sekat yang disebut septum intersegmentale.
F.     Sistem Saraf
System saraf cacing tanah, terletak disebelah dorsal pharynx didalam segmen yang ke-3 dan terdiri atas:
·    Ganglion cerebrale, yang tersusun atas 2 kelompok sel-sel saraf dengan comissura
·    Berkas saraf ventralis dengan cabang-cabangnya
Di tiap kelompok sel-sel tersebut terdapat: saraf-saraf yang menginnervasi daerah mulut dan berpangkal pada ujung anterior tiap kelompok sel-sel tersebut; cabang saraf yang menuju ke ventral dan melingkari pharynx. Saraf ini disebut comissura circum pharyngeal, yang berhubungan dengan berkas saraf ventralis.
G.    Organ Sensoris
Cacing tanah tidak mempunyai mata, tetapi pada kulit tubuhnya terdapat sel-sel saraf tertentu, yang peka terhadap sinar.
H.    Sistem Reproduksi
Cacing tanah bersifat hermaphrodit. Sepasang ovarium menghasilkan ova, dan terletak di dalam segmen ke-13. Kedua oviductnya juga terletak di dalam segmen ke-13 dan infundibulumnya bersilia. Oviduct tadi melalui septum yang terletak diantara segmen ke-13 dan ke-14, dan di dalam segmen ke-14 membesar membentuk kantong telur. Testes: ductus spermaticus atau vasa deferentia masing-masing ada 2 pasang, sedang vesicular seminalisnya ada 3 pasang. Testes terletak di dalam suatu rongga yang dibentuk oleh dinding-dinding vesicular seminalis. Ductus spermaticus mulai dari testes bagian ujung, dan melanjutkan diri ke posterior sampai segmen ke-15, dan pada segmen ini juga ductus itu bermuara keluar.
Spermatozoa yang telah meninggalkan testes, akan masuk ke dalam vesicular seminalis dan selanjutnya tersimpan di dalamnya. Walaupun cacing tanah bersifat hermaphrodit, tetapi tidak terjadi autofertilisasi. Di antara segmen-segmen 9 dan 10; 10 dan 11, terdapat receptaculum seminalis, yang merupakan tempat penampung spermatozoa dari cacing lain.
a.      Cara Kopulasi
Dua ekor cacing tanah saling berdekatan. Kemudian saling merapatkan diri pada bagian ventral segmen-segmen ke-9 sampai ke-11. Dalam keadaan ini cacing membentuk pipa lender dan tiap-tiap cacing itu mengeluarkan spermatozoanya dari vesicular seminalisnya. Spermatozoa dari cacing pertama melalui pipa lender tadi masuk ke dalam receptaculum seminalis cacing kedua, dan begitu juga sebaliknya.
Kemudian masing-masing cacing tadi saling memisahkan diri dengan tetap membawa bagian pipa lendirnya. Di dalam pipa lender ini, cacing mengeluarkan suatu substansi, yang kemudian membantuk cocon atau kantong. Cocon ini kemudian tergelincir diatas kepala cacing dan mengeras. Di dalam cocon ini, spermatozoa membuahi ova. Ova yang telah dibuahi ini, lama kelamaan akan mengalami perkembangan lebih lanjut, sehingga nanti jika sudah menetas akan keluarlah cacing-cacing muda.
b.      Regenerasi
Kebanyakan avertebrata mempunyai kemampuan regenerasi tergantung pada bagian tubuh cacing yang di potong. Bila seekor cacing tanah di potong menjadi 2 bagian, maka pada potongan bagian anterior akan segera terbentuk ekor baru, sedangkan pada potongan bagian posterior akan terbentuk kepala baru, tetapi prosesnya lebih lambat. Banyak segmen-segmen yang terjadi pada regenerasi, umumnya lebih sedikit daripada jumlah segmen yang hilang.


3.  HABITAT
Cacing tanah hidup di dalam liang dalam tanah yang lembab, subur dan suhunya tidak rendah. Cacing-cacing ini keluar ke permukaan hanya pada saat-saat tertentu saja. Dalam keadaan normal mereka akan pergi ke permukaan tanah pada malam hari. Dalam keadaan yang sangat dingin atau sangat kering mereka masuk ke dalam liang, seringkali sampai sedalam 8 kaki, dan dalam keadaan ini beberapa cacing seringkali terdapat melingkar bersama-sama, dengan di atasnya terdapat lapisan tanah yang bercampur dengan lendirnya.
4.  KLASIFIKASI
Filum annelida terdiri atas 3 kelas, yaitu: kelas Polychaeta, kelas Oligochaeta, dan kelas Hirudinae.
a.      Kelas Polychaeta
Polychaeta tubuhnys jelas bersegmen-segmen, baik bagian luar maupun bagian dalamnya; coelom umumnya terbagi oleh septa intersegmental; hidup di laut; segmen tubuh banyak; mempunyai banyak setae (poli=banyak; setae=rambut-rambut kaku). Setae terjadi dari bagian dinding tubuh yang special yang dinamakan parapodia; umumnya jelas mempunyai kepala yang dilengkapi sejumlah alat tambahan atau extremitas hamper bersifat gonochoristis, dengan gonade memanjang di seluruh tubuh dan fertilisasi eksternal; perkembangannya melalui stadium larva; larva disebut trochophora. Contoh-contoh: Neanthes, Chartopterus, Arenicola, Spirorbis, Serpula, Nereis.
b.      Kelas Oligochaeta
Oligochaeta adalah meliputi cacing tanah dan beberapa spesies yang hidup di air tawar. Oligochaeta tubuhnya juga jelas bersegmen-segmen; jumlah setae sedikit (oligos=sedikit; chaeta=rambut kaku atau setae). Tubuh cacing ini umumnya berbentuk panjang silindris, dengan panjang 18cm dan diameter tubuhnya 0,935cm. Setae tidak terdapat pada parapodia; selalu bersifat hermafrodit, tetis dan ovarium terdapat pada segmen-segmen bagian anterior, dan testis selalu terletak disebelah anterior ovarium; ductus genitalis bermuara ke dalam suatu rongga yang disebut spermatheca; reproduksi dilakukan dengan fertilisasi silang; ova terdapat di dalam cocon, pertumbuhan atau perkembangan secara langsung tanpa melalui larva. Kelas Oligochaeta meliputi 2 ordo, yaitu:
1.      Ordo Torriselae, adalah oligochaeta yang bersifat terrestrial, yaitu hidup di dalam tanah; contoh: Lumbricus, Allolophobora, Eutyphocus.
2.      Ordo Limicoale, adalah oligochaeta yang bersifat aquatic. Contoh: Tubifex Stylaria, Aelosoma.





c.       Kelas Hirudinea (Hirudo=lintah)

Tubuh hirudinea pada keadaan diam berbentuk lonjong atau oval dan memipih kea rah dorsoventral. Pada permukaan tubuh banyak terdapat lekukan-lekukan atau annuli, tidak terdapat setae atau parapodia; pada ujung anterior dan ujung posterior beberapa segmen mengalami beberapa perubahan bentuk alat penghisap (batil penghisap). Dengan demikian pada tubuh seekor lintah terdapat 2 batil penghisap, yaitu: satu di ujung anterior, terdapat di sekitar mulut dan satu lagi di ujung posterior. Batil penghisap ini berfungsi untuk melekatkan diri pada permukaan tubuh hewan atau manusia, yang akan dihisap darahnya.
Jaringan mesenkim dinding coelom membentuk tonjolan-tonjolan kecil atau villi ke dalam rongganya atau coelomnya. Hirudinae kebanyakan bersifat hermaphrodit dan padanya terdapat clitellum, dan embrio berkembang di dalam cocon.

Kelas hirudinea dapat di bagi atas beberapa familia, diantaranya yaitu:
1.      Familia Achanthobdellidae
Familia ini merupakan bentuk peralihan diantara oligochaeta dan hirudinea, dan hanya ada 1 genus yaitu Acanthobdella.
2.      Familia Rhynchobdellidae
Rhynchobdellidae hidup di air laut dan di dalam air tawar; darah tidak berwarna; proboscis dapat di tonjolkan; tidak mempunyai rahang.
3.      Familia Gnathobdellidae
Gnathobdellidae ada yang bersifat aquatic yaitu dalam air tawar, dan ada juga yang bersifat terrestrial; darah berwarna merah; tanpa ada proboscis, tetapi umumnya mempunyai rahang. Contoh: Hirudo medicinalis, Haemopis.



BAB III
PENUTUP

1.      KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
·         Annelida hidup air tawar, air laut dan darat. Sebagian ada yang bersifat parasit. Simetri tubuhnya bilateral simetris. Sistem saraf terdiri dari ganglion otak dihubungkan dengan tali saraf yang memanjang sehingga berupa tangga tali. Alat eksresi disebut nephridium. Respirasi dengan menggunakan epidermis pada seluruh permukaan tubuh dan berlangsung secara difusi. Sistem peredaran darah tertutup.
·         Habitat cacing tanah hidup di dalam liang dalam tanah yang lembab, subur dan suhunya tidak rendah.
·         Klasifikasi Annelida berdasarkan ada tidaknya seta dibagi menjadi kelas yaitu Polychaeta, Oligochaeta, dan Hirudinea.
·         Beberapa jenis Annelida berguna sebagai bahan makanan. Cacing wawo dan palolo dapat digunakan sebagai sumber protein hewani bagi manusia, cacing tanah bermanfaat untuk menyuburkan tanah pertanian. Lintah dapat digunakan untuk membersihkan nanah pada luka yang telah terinfeksi. Selain itu, hirudin bermanfaat dalam penyimpanan darah, yaitu untuk keperluan transfusi darah.


2.      SARAN
Dengan memiliki pengetahuan tentang Annelida, mahasiswa disarankan untuk
·         Lebih meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar agar cacing tanah tetap lestari.
·         Memanfaatkan cacing tanah sebaik mungkin sehingga dapat berguna bagi masyarakat luas.








DAFTAR PUSTAKA

Kastawi,yusuf.2005.Zoologi Avertebrata.Malang:Universitas Negeri Malang.

0 komentar: