BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Teori
evolusi terus berkembang, khususnya sejak Edwin Hubble pada 1929 dengan
menggunakan efek Dopler menyatakan ide Big Bang, yang terjadi 14 milliar tahun
lalu, dan diperkuat oleh Arno Penzias dan Robert Wilson pada 1965 yang secara
kebetulan menemukan sinyal microwave di alam semesta yang intinya: memperkuat
teori big bang, sekaligus evolusi.
Evolusi
(dalam kajian biologi) berarti
perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme
dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan
oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat
yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan
suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika
organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru.
Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi ataupun transfer gen
antar populasi dan antar spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara
seksual, kombinasi gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika,
yang dapat meningkatkan variasi antara organisme. Evolusi terjadi ketika
perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum atau langka dalam suatu
populasi.
Meskipun
teori evolusi selalu diasosiasikan dengan Charles Darwin, namun sebenarnya
biologi evolusioner telah berakar sejak zaman Aristoteles. Namun demikian,
Darwin adalah ilmuwan pertama yang mencetuskan teori evolusi yang telah banyak
terbukti mapan menghadapi pengujian ilmiah. Sampai saat ini, teori Darwin
mengenai evolusi yang terjadi karena seleksi alam dianggap oleh mayoritas
komunitas sains sebagai teori terbaik dalam menjelaskan peristiwa evolusi.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimanakah
Teori Evolusi Menurut Para Ahli?
1.2.2 Bagaimanakah
Bantahan atau Sanggahan Terhadap Teori
Evolusi Charles Darwin?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan
permasalahan tersebut, maka dapat dirumuskan bahwa tujuan penulisan makalah ini
adalah:
1.3.1 Menganalisa teori evolusi Charles Darwin
tentang penciptaan mahkluk hidup.
1.3.2
Untuk mengetahui bantahan atau
sanggahan terhadap teori evolusi Charles Darwin.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teori Evolusi Menurut Para Ahli
Evolusi adalah proses perubahan
pada makhluk hidup dari generasi ke generasi
berikutnya dalam kurun waktu yang sangat lama. Perubahan yang terjadi akibat
teori evolusi bisa bermacam-macam bentuknya. Sebagai hasil dari proses
perubahan-perubahan dalam evolusi tersebut bisa kita lihat dalam keanekaragaman
makhluk hidup yang ada sekarang ini.
Darwin bukanlah orang pertama
yang mencetuskan evolusi, akan tetapi karena dalam mengemukakan pendapatnya
disertai dengan bukti-bukti yang dapat diterima oleh dunia ilmiah, maka Darwin
mendapat sebutan sebagai: “BAPAK EVOLUSI”.
Beberapa teori-teori dari para ilmuan tentang
evolusi adalah sebagai berikut:
a. Teori Fixisme
Teori Fixisme diyakini oleh para pemikir pada
masa-masa terdahulu. Teori ini meyakini adanya aneka ragam spesies makhluk yang
bersifat independen, artinya manusia berasal dari manusia dan seluruh binatang
yang lain juga berasal dari spesies mereka masing-masing.
b.
Teori Transformisme
Teori Transformisme beranggapan bahwa
penciptaan spesies-spesies yang ada sekarang ini berasal dari makhluk dan
spesies-spesies yang berbeda. Para ilmuwan berkeyakinan bahwa teori Evolusi
alam natural paling tidak seusia dengan masa para filosof Yunani. Sebagai
contoh, Heraclitus meyakini bahwa segala sesuatu senantiasa mengalami proses
dan evolusi. Ia menegaskan, “Kita harus ketahui bersama bahwa segala sesuatu
pasti mengalami peperangan, dan peperangan ini adalah sebuah keadilan. Segala
sesuatu terwujud lantaran peperangan ini, dan setelah itu akan sirna.” Segala
sesuatu selalu berubah dan tidak ada suatu realita yang diam.
Ketika membandingkan antara fenomena-fenomena
alam dengan sebuah aliran air sungai, ia berkata, “Kalian tidak dapat
menginjakkan kaki dalam satu sungai sebanyak dua kali.” Mungkin filosof pertama
yang mengklaim teori Transformisme (perubahan gradual karakteristik dan spesies
seluruh makhluk hidup) adalah Anaximander. Ia adalah filosof kedua aliran
Malthy setelah Thales. Ia beryakinan bahwa elemen utama segala sesuatu adalah
substansi (jawhar) yang tak berbatas, azali, dan supra zaman. Anaximander juga
berkeyakinan bahwa kehidupan ini berasal dari laut dan bentuk seluruh binatang
seperti yang kita lihat sekarang ini terwujud lantaran proses adaptasi dengan
lingkungan hidup.
Manusia pada mulanya lahir dan terwujud dari
spesies binatang lain. Hal ini lantaran binatang-binatang yang lain dapat
menemukan sumber makanannya dengan cepat. Akan tetapi, hanya manusia sajalah
yang memerlukan masa yang sangat panjang untuk menyusu pada ibu yang telah
melahirkannya. Jika manusia memiliki bentuk seperti yang dapat kita lihat
sekarang ini sejak dari permulaan, niscaya ia tidak akan dapat bertahan hidup.
Meskipun teori Evolusi memiliki masa lalu yang sangat panjang, tetapi teori ini
tidak memperoleh perhatian yang semestinya dari para ilmuwan selama masa yang
sangat panjang. Dengan kemunculan para ilmuwan seperti Lamarck, Charles Robert
Darwin, dan para ilmuwan yang lain, teori ini sedikit banyak telah berhasil
menemukan posisi ilmiah yang semestinya.
c. Teori Katastropisme
Teori Katastropisme merupakan paham tentang keanekaragaman makhluk hidup
dihasilkan oleh nenek moyang yang umum, dan muncul atau punahnya makhluk hidup
disebabkan oleh bencana alam. Teori ini dikenalkan oleh George Cuvier
(1796-1832), seorang ahli Paleontologi (ilmu fosil). Alasan Cuvier adalah
karena ia mengamati setiap sedimen batuan kuno yang ia temukan mengandung
beberapa jenis hewan dan tumbuhan yang berbeda. Karena itu, ia berpikir bahwa
tiap sedimen mewakili tiap masa atau waktu evolusi. Tiap sedimen yang
mengandung jenis-jenis organisme hidup dan mati karena bencana. Ia berkeyakinan bahwa makhluk hidup muncul
selama masa yang beranekaragam dalam tataran geologi. Lantaran
revolusi-revolusi besar dan tiba-tiba yang pernah terjadi di permukaan bumi,
seluruh makhluk hidup itu musnah. Setelah itu, Tuhan menciptakan kelompok
binatang baru dalam bentuk yang lebih sempurna. Periode-periode makhluk
selanjutnya juga muncul dengan cara yang serupa.
Teori ini dalam ilmu Geologi dikenal dengan
nama Catastrophisme; yaitu revolusi besar di permukaan bumi. Ia
mengingkari seluruh jenis hubungan kefamilian antara makhluk hidup pada masa
kini dan makhluk-makhluk yang pernah hidup sebelumnya.
d. Teori
Kreasionisme
Teori Kreasionisme merupakan teori tentang penciptaan yang terjadi dalam
sekali waktu kehidupan sekaligus lengkap, kemudian selesai dan tak ada lagi
evolusi atau perubahan. Paham ini
dianut berdasar keyakinan agama, juga berdasarkan keterangan Aristoteles (hidup
pada 300 SM). Teori Kreasionisme
dianggap tidak valid karena kenyataannya banyak spesies yang hidupnya tidak
sekaligus ada pada satu zaman. Misalnya masa hidup dinosaurus tidak bersamaan
dengan masa hidup manusia. Dinosaurus telah ada lebih dulu sebelum manusia.
Demikian juga burung adalah makhluk ”pendatang” baru dibandingkan spesies yang
lebih tua misalnya trilobita.
- Teori Gradualisme
Teori Gradualisme dikemukakan oleh ahli Geologi Swedia bernama James Hutton
(1795). Paham tersebut menyatakan bahwa perubahan geologis berlangsung pelan-pelan tetapi pasti. Teori gradualisme
ini tak mampu dijelaskan dengan mekanisme yang meyakinkan.
- Teori Uniformitarianisme
Teori Uniformitarianisme dinyatakan oleh Charles Lyell (1797-1875). Paham
ini menyatakan bahwa proses-proses geologis ternyata menuruti pola yang
seragam, sehingga kecepatan dan pengaruh perubahan selalu seimbang dalam kurun
waktu. Misalnya, terbentuknya gunung selalu diimbangi dengan erosi gunung.
Teori Uniformitarianisme memang menjelaskan kejadian evolusi geologis, tetapi
tidak dapat menjelaskan kejadian terbentuknya spesies.
- Teori Lamarck
Teori Lamarck juga dikenal dengan teori perolehan yang terwariskan secara
genetik. Awal abad ke-19 ( 1809), Lamarck memperkenalkan bahwa sifat fenotip
perolehan lingkungan dapat diwariskan secara genetik (acquired inheritance).
Bagian tubuh yang tidak digunakan akan mengalami retardasi (tidak berkembang), bagian
(alat) tubuh yang dipergunakan akan berkembang lebih kuat dan lebih besar. Ia
menerangkan bahwa nenek moyang jerapah berleher pendek, tetapi karena terus
menerus leher dijulurkan ke atas untuk menggapai makanan, leher jerapah menjadi
lebih panjang. Jadi menurut Lamarck evolusi disebabkan oleh pewarisan sifat genetis yang diperoleh dari
lingkungannya. Teori Lamarck mengandung kesalahan yang dapat dibuktikan
Weissman yang menunjukkan bahwa tikus yang ekornya dipotong di laboratorium
tidak mewariskan pengalaman ekornya itu pada keturunannya.
- Teori Charles Darwin
Charles Darwin (1809-1882), menyatakan bahwa evolusi disebabkan oleh proses
seleksi alam. Karena itu teori evolusi Darwin disebut juga teori seleksi alam.
Teori Darwin disusun atas dasar fakta-fakta yang ia amati pada pengembaraannya
berkeliling dunia dengan kapal Beagle di Kepulauan Galapagos (kepulauan lepas
pantai negara Chili sekarang), dan juga beberapa tempat lain di Amerika
Selatan. Selain itu Darwin dipengaruhi oleh dua buku, yaitu:
1)
Buku
Principles of Geology, karangan Charles Lyell. Buku tersebut menguraikan bahwa
perubahan geologis bersifat gradual (perlahan-lahan tapi pasti), konsisten dan
terus-menerus.
2)
Buku
Malthus, tentang populasi penduduk dunia yang bertambah menurut deret ukur, sementara
jumlah makanan bertambah menurut deret hitung. Oleh karena itu, ada
kecendrungan perebutan sumber daya melalui perjuangan untuk hidup (struggle for
existence).
Teori Evolusi Darwin pertama kali dikemukakan pada forum ilmiah Linnean
Society (1958). Secara bersamaan, Alfred Wallace juga mengemukakan hal yang
sama, yaitu ide atau teori evolusi berdasarkan pengamatan Wallace di berbagai
benua, termasuk di Sulawesi (terkenal dengan garis Wallace yang memisahkan
distribusi hewan-hewan di Sulawesi). Ide atau teori Wallace tentang evolusi
biologis serupa dengan ide atau teori evolusi Darwin.
2.2
Bantahan atau Sanggahan Para Ahli
Terhadap Teori Evolusi
Charles Darwin sudah banyak menulis buku, di antaranya
yang penting ialah The Origin of Species
dan The Descend Of Man. Buku itu dia
tulis setelah ikut kapal Angkatan Laut Inggris mengadakan ekspedisi ke Amerika Selatan
pada abad ke-19. Ia mengumpulkan data yang menunjukkan teorinya, yang
mengatakan bahwa:
1)
Terdapat
variasi (perbedaan kecil) dalam suatu spesies, dan ini oleh faktor
genetik dan lingkungan.
2)
Ada
seleksi alam pergolakan hidup, variasi yang menguntungkan akan bertahan dan
berkembang, variasi yang merugikan akan susut lalu musnah.
3)
Ada
hubungan kerabat antara berbagai spesies yang baru berasal dari spesies yang
dulu ada
4)
Manusia
juga mengalami evolusi seperti makhluk lain, berarti berada dalam satu mata
rantai evolusi dengan hewan.
Bukunya itu terbit setelah mendiskusikan dan merenungnya
selama hampir 20 tahun. Ditambah dengan lama waktu ekspedisi selama 5 tahun.
Maka, bukunya terbit setelah diolah selama 25 tahun. Sementara itu, ada sarjana
inggris lain yaitu Alfred R. Wallace, yang
juga mengadakan ekspedisi, tetapi ke Asia Tenggara. Wallace menulis
karya ilmiahnya sebagai hasil ekspedisi itu, dan mendapat kesimpulan sama
dengan yang ditulis oleh Darwin, bahwa
ada proses pembentukan spesies menurut seleksi alam. Makalahnya dia kirimkan
langsung kepada
Darwin untuk minta komentarnya. Darwin terkejut, tetapi ia meneruskannya ke
majalah ”Linnean Society” untuk
diterbitkan.
Karena bukti-bukti yang diajukan Darwin lebih rinci dan
lengkap, akhirnya para ilmuan menganggap Darwinlah sebagai pencetus teori
evolusi seleksi alam. Namun, jasa Wallace ada dipatrikan oleh masyarakat
ilmiah, dengan adanya istilah ”Garis Wallace”. Garis ini membagi biogeografi Asia Tenggara atas dua
realm: Australia dan Oriental. Pembagian itu melewati garis yang di utara lewat
Selat Makassar terus ke Filipina, dan di
selatan lewat Selat lombok terus ke Australia. Yahya dalam buku yang
diterjemahkan ke bahasa Indonesia,
“Menyingkap Rahasia Alam Semesta”, dapat dibaca bahwa ia membantah adanya
evolusi. Padahal dalam Al Quran sendiri yang Sangat banyak dia kutip dari
bukunya tetapi tidak memfokus ada dinyatakan bahwa :
1)
Jagat
raya dan makhluk mengalami perubahan.
2)
Manusia
tumbuh melewati berbagai tingkatan.
3)
Manusia
dijadikan setelah hewan dan tumbuhan hadir di Bumi.
Jagat raya selalu berubah berangsur. Ada bintang (matahari)
baru muncul, ada yang menciut lalu musnah. Matahari kita sendiri, juga berubah
berangsur. Pada badan Matahari itu terjadi terus menerus ledakan. Ini
mempengaruhi cuaca serta saraf hewan di Bumi, lalu menimbulkan perubahan.
Matahari berubah, cuaca Bumi berubah, makhluk hidup pun berubah. Perubahan pada
makhluk sesuai dengan adaptasi, pergolakan, dan seleksi alam. Manusia juga
harus berubah berangsur.
Jika jagat raya berubah sedangkan manusia tidak berubah,
manusia akan tidak bisa bertahan hidup, populasinya susut, akhirnya musnah.
Jelaslah manusia agar tetap eksis di Bumi bukan hanya harus percaya terjadinya
evolusi, tetapi lebih-lebih ikut terlibat lansgung dalam proses evolusi. Dalam
Al Quran ada disebut bahwa manusia itu mengalami pertumbuhan
bertingkat-tingkat. Bertingkat di sini bisa bertingkat secara embriologi
(ontogeni), bisa bertingkat secara asal usul (filogeni). Sehubungan dengan ini
ada hukum yang disusun oleh E. Haeckel pada abad ke-19, yang mengatakan
”ontogeni merekapitulasi filogeni”. Pertumbuhan
embrio orang mengalami pertumbuhan bertingkat-tingkat sejak masa embrio ikan,
embrio amfibi, embrio reptil, embrio mamal, dan embrio kera.
Sebagai contoh ada masanya embrio yang memiliki kantung
insang seperti ikan, memiliki jantung berongga tiga seperti amfibi, memilki
ekor seperti mamal pada umumnya, dan memiliki bulu tebal seperti kera. Dalam hal ini manusia bukan berasal dari kera, tetapi
sama asal usul dengan kera yang hidup bersama kita Sekarang. Tuhan sudah
menganugerahi manusia
sebagai khalifah di Bumi. Untuk itu dia beri:
1)
Kecerdasan
yang jauh lebih tinggi dari hewan lain.
2)
Moral
untuk mengendalikan kecerdasan itu.
Kecerdasan dan moral tumbuh dari otak. Dengan kedua bekal
itulah, manusia dapat lebih maju dan lebih baik dalam beradaptasi terhadap
alam, sambil ia memelihara diri sebagai kalifah. Moral dan kecerdasan harus
seimbang. Jika salah satu lebih berat akan terjadi gangguan atau kelainan dalam
menghadapi kehidupan. Jira moral rendah tapi kecerdasan tinggi, Tuhan menyebut
dalam Al Quran, bahwa akan tiba masanya manusia itu akan lebih rendah dari
binatang, karena dalam berbuat jahat dan menipu itu tidak pernah kenyang, beda
dengan binatang kalau sudah kenyang mereka akan tenang dan jinak.
Buku Darwin telah mengguncang bukan hanya kaum gereja,
tetapi juga para ahli hukum, Antropologi, Geografi, dan Psikologi. Itu lantaran teori evolusi Darwin itu Sangat prinsipil
mencoba menganalisis kejadian manusia serta makhluk lain. Padahal masa hidup
Darwin itu dianggap murtad jika menyebut manusia memiliki hubungan evolusi
dengan spesies lain, terutama dengan bangsa kera (Primata). Namun, walau
bagaimana pun teori evolusi Darwin bisa bertahan sampai sekarang. Meski di sana
sini ada penambahan data dan pikiran baru. Terutama dari Julian Huxley yang
menyatakan bahwa setelah manusia mengalami evolusi biologi kini disusul dengan
evolusi psikososial.
Yahya membantah adanya hubungan spesies antara seluruh
makhluk di Bumi, termasuk manusia. Lalu dia mengajukan pendapat yang mengatakan
kerabat antara berbagai spesies. Pendapat
ini sebetulnya sudah dilontarkan semasa Darwin hidup pada abad ke-19. terutama
oleh para ahli Sistematik dan Anatomi. Lalu Yahya mengatakan dengan
ditemukannya ilmu baru, yaitu Biokimia dan Genetika, terutama tentang gen,
kromosom, dan DNA, teori evolusi darwin sudah masuk keranjang sampah. Dapat
dikatakan bahwa kedua mata pelajaran yang di masa Darwin belum berkembang itu
justru kini jadi memperkuat teori evolusi itu sendiri, dan membantah teori
penciptaan khusus yang diajukan kembali oleh Yahya.
Teori penciptaan khusus dan serentak hampir tak ada lagi
sarjana biologi mana pun kini yang menganut. Seorang sarjana biologi dari institut terkenal ada yang
bersosoh melawan arus pemilikan yang deras. Setiap mahasiswa Biologi akan
menemui data evolusi dalam setiap mata kuliah. Terutama ketika kuliah Taksonomi
atau Sistematik, Anatomi Manusia, Anatomi Komparatif, Embriologi, Biogeografi,
Zoo-Fisiologi, Paleontologi, dan bahkan Genetika. Di dalam tiap mata pelajaran
itu akan selalu ditemui bukti adanya evolusi dan adanya hubungan kerabat antara
berbagai hewan.
Dari Anatomi ia akan mendapat kuliah bahwa ada kesamaan
dan variasi antara berbagai hewan, berderajat menurut kedudukan taksonomi. Jika
ia belajar anatomi manusia akan tahu adanya bukti evolusi pada alat persisaan
yang mendekati 100 banyaknya. Alat persisaan ini masih utuh dan fungsional pada
hewan yang berkedudukan sistematik lebih rendah, dan ini berkaitan dengan
adaptasi terhadap lingkungan. Misalnya, usus buntu yang sudah menyusut pada
orang yang kurang besar dan berperan besar pula dalam proses pencernaan.
Dari Embriologi akan dapat adanya hubungan kerbat itu
melihat pada pertumbuhan embrio awal dan organogenesis. Ginjal orang misalnya
tumbuh betingkat-tingkat, menurut Hukum Haeckel pula. Mula-mula tumbuh seperti
ginjal cacing yang disebut pronephros. Pronephros hilang muncul mesonephros,
seperti ginjal amfibi. Lalu mesonephros, seperti ginjal amfibi. Lalu
mesonephros hilang pula, digantikan ginjal tetap yang disebut metanephros, yang
terdapat pada reptil, burung, dan mamal.
Dari Paleontologi akan ditemukan bahwa kejadian berbagai makhluk
adalah secara bertingkat-tingkat, dan peningkatan itu, seperti disinggung tadi
di atas, sesuai dengan kedudukan sistematik. Orang muncul setelah ungka dulu
ada, ungka muncul setelah kera sederhana seperti Tarsius lebih dulu ada. Ini
sesuai dengan yang disebut dalam Al Quran bahwa manusia itu timbul setelah
hewan dan tumbuhan lebih dulu ada.
Yahya menyebut fosil yang diajukan sebagai bukti evolusi
adalah fosil palsu. Padahal fosi-fosil itu direkonstruksi berdasarkan
perhitungan dan rundingan yang matang antara banyak sarjana. Di Museum Geologi
Bandung misalnya, ada fosil evolusi reptil ke burung yang masih bergigi. Pasti
fosil yang dipajang itu bukan fosil palsu atau ditukang-tukangi. Dalam
Zoo-Fisiologi ditemukan banyak persamaan variasi antara berbagai hewan sesuai
dengan lingkungan dan cara hidup. Dan bukankah karena banyaknya persamaan
fisiologi antara hewan dan manusia maka mahasiswa kedokteran dan farmasi
menggunakan hewan sebagai objek percobaan anatomi dan fisiologi.
Demikianlah juga berkat kekerabatanlah maka percobaan
bahan Keluarga Berencana dan penemuan obat dengan menggunakan hewan sebagai
objek percobaan bisa lancar. Dalam Genetika akan dia temukan makin dekat
hubungan kerabat makin banyak persamaan kromosom dan urutan nukleotida DNA. Orang
memilki kromosom 46, orangutan 48. Tetapi kalau dibuat peta kromosom kedua
jenis makhluk itu, apalagi dengan dibantu teknik permintaan kromosom, akan
tampak kesamaan pita-pita. Lalu 2 kromosom yang lebih pada orangutan karena
keduanya lengket ke kromosom yang panjang.
Secara teknik pemitaan akan kelihatan tambahan yang
lengket itu pada pita-pita bertambah. Lalu berbagai penyakit dan kelainan pada
orang ditemukan juga pada orangutan, simpanse, dan ungka lain. Misalnya,
Sindroma Down yang menyebabkan kecerdasan rendah dan infertilitas, ditemukan
juga pada orangutan. Sindroma Down
terjadi pada ungka karena perubahan letak suatu fragmen kromosom, yang
pada manusia sudah sangat jarang ditemukan, ini digantikan dengan tambahan satu
kromosom.
Yahya menyebut segala makhluk diciptakan bersamaan.
Padahal dari data paleontologi sudah terbukti jelas, bahwa ada kesinkronan
kejadian jenis-jenis makhluk pada lapisan batuan bumi dengan kedudukan
sistematik mereka. Makhluk yang lebih dulu ada terdapat pada lapisan batuan yang
lebih dalam, makhluk yang belakangan ada terdapat pada lapisan batuan
terdangkal. Manusia adalah makhluk yang paling akhir terbentuk dan fosilnya
terdapat pada lapisan batuan yang terdangkal.
Terbukti manusia belum ada di Zaman Yura, yaitu zaman
kerajaan Dinosaurus. Itu
hanya ada dalam sience fiction ” Jurassic
Park”. Tentang fosil Pithecanthropus eretus, kera-manusia, serta
manusia-kera yang dituduh berasal dari tengkorak anak atau ras terisolasi,
tampaknya Yahya meremehkan kerja para ahli dan para kurator museum diberbagai daerah di dunia.
Lalu tentang ungkapan bahwa
proses evolusi, yang dalam buku Darwin dan Huxley sudah diulas panjang lebar,
ialah oleh adanya adaptasi, pergolakan hidup, dan seleksi alam, namun oleh
Yahya itu semua disebut kejadian yang kebetulan. Kita jadi sukar mengerti akan jalan pikiran penulis Turki
ini.
Di samping dibebani tugas sebagai khalifah di Bumi, Tuhan
memberi bekal bagi manusia dan makhluk lain dalam menjalani evolusi, agar
mereka tidak susut dan musnah, yaitu transposon. Transoposon ini dapat
menimbulkan mutasi pada gen lain dan bahkan juga kromosom. Ada dua macam
mutasi, yaitu mutasi gen dan mutasi kromosom, dan inilah jadi bahan mentah (raw
materials) terjadinya evolusi. Mutasi itu ada karena polusi dan radiasi, ada
karena transposon. Mutasi karena polusi dan radiasi menyebabkan perubahan yang
kebanyakan merugikan, tetapi mutasi karena transposon kebanyakan menguntungkan.
Jadi inilah yang memegang peranan penting dalam evolusi manusia.
Yahya yang mengatakan teori evolusi Darwin jadi terbantah
dengan ditemukannya gen dan hukum pewarisannya oleh Gregor Mendel, itu bapak
Genetika dari Austria yang tersohor. Tetapi dari penemuan Genetika modern,
seperti transposon tadi, dan pemetaan kromosom teknik pemitaan berbagai
makhluk, lalu yang mutakhir memperbandingkan urutan nukleotida DNA berbagai gen
antara berbagai spesies, justru membantah pendapat yang mengatakan kejadian
makhluk tanpa evolusi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan tentang
teori evolusi menurut para ahli sebagai berikut :
1)
Teori Fixisme menyatakan bahwa manusia berasal dari manusia dan seluruh
binatang yang lain juga berasal dari spesies mereka masing-masing.
2)
Teori Transformisme beranggapan bahwa penciptaan spesies-spesies yang ada
sekarang ini berasal dari makhluk dan spesies-spesies yang berbeda.
3)
Teori
Katastropisme merupakan paham tentang keanekaragaman makhluk hidup dihasilkan
oleh nenek moyang yang umum, dan muncul atau punahnya makhluk hidup disebabkan
oleh bencana alam.
4)
Teori
Kreasionisme merupakan teori tentang penciptaan yang terjadi dalam sekali waktu
kehidupan sekaligus lengkap, kemudian selesai dan tak ada lagi evolusi atau
perubahan.
5)
Teori
Gradualisme merupakan paham yang menyatakan bahwa perubahan geologis berlansung
pelan-pelan tetapi pasti.
6)
Teori
Uniformitarianisme merupakan paham yang menyatakan bahwa proses-proses geologis
ternyata menuruti pola yang seragam, sehingga kecepatan dan pengaruh perubahan
selalu seimbang dalam kurun waktu.
7)
Teori Lamarck
menyatakan bahwa evolusi disebabkan oleh
pewarisan sifat genetis yang diperoleh dari lingkungannya.
8)
Teori Charles
Darwin menyatakan bahwa evolusi disebabkan oleh proses seleksi alam.
3.2 Kritik dan
Saran
Penulis telah berusaha dengan segala keterbatasan ilmu dan leteratur yang
minim untuk menyusun makalah tentang teori
Evolusi yang berkenaan dengan proses perubahan pada makhluk hidup dari
generasi ke generasi dalam kurun waktu yang sangat lama.
Untuk kesempurnaan makalah ini penulis mengharapkan kritik dan saran dari dosen ( pembimbing ) dan teman-teman seperjuangan baik yang
berhubungan dengan sistematika penulisan, maupun isi dari makalah ini.
Mudah-mudahan makalah yang sederhana ini memberi manfaat bagi penulis dan
pembaca. Atas kritik dan sarannya penulis ucapkan terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Aryulina, Diah,dkk. 2007. Biologi 3 SMA dan MA untuk Kelas XII. Jakarta: Esis.
Hadian, Yuvan. 2005. Aplikasi Biologi
dalam kehidupan Sehari-hari SMA/MA Kelas
3. Bandung: Inti Prima Aksara.
Wijaya,
Hendra. 1986. Intisari Biologi Kelas.
1,2,3 SMA. Bandung: CV Pionir Jaya.
0 komentar:
Posting Komentar