BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Siklus belajar berasal dari kerja Robert Karplus dan
teman-temannya selama pengembangan Science Curriculum Improvement Study (SCIS).
Bermula, siklus belajar terutama berdasarkan pada pandangan teoritis Jean
Piaget, namun demikian hal ini konsisten dengan teori belajar yang lain,
seperti yang telah dikembangkan oleh David Ausubel.
Siklus belajar merupakan salah satu metode
perencanaan yang telah diakui dalam pendidikan IPA. Siklus belajar dikembangkan
berdasarkan teori yang dikembangkan pada masa kini tentang bagaimana siswa
seharusnya belajar. Metode ini merupakan metode yang mudah untuk digunakan oleh
guru dan dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas belajar
IPA pada setiap siswa kita. Guru harus menemukan cara-cara memahami
pandangan-pandangan siswa, merencanakan kerangka alternatif, merangsang
kebingungan antar siswa dan mengembangkan tugas-tugas yang mengajukan konstruksi
pengetahuan.
Menurut Dahar RW (1998) menyatakan bahwa
prinsip-prinsip yang paling umum dan esensial yang dapat diturunkan dari
konstruktivisme ialah siswa memperoleh pengetahuan diluar sekolah dan
pendidikan seharusnya memperhatikan hal tersebut. Dan juga menyatakan bahwa
pelajaran kemudian dikembangkan dari gagasan yang telah ada mungkin melalui
langkah-langkah intermediet dan berakhir dengan gagasan yang telah mengalami
modifikasi. Salah satu model belajar mengajar yang menerapkan konstruktivisme adalah
penggunaan model siklus belajar atau sering disebut Learning Cycle.
B.
Rumusam
Masalah
1.
Apa pengertian
siklus belajar (Learning Cycle)?
2.
Bagaimana Hubungan
teori belajar Piaget dalam fase-fase siklus belajar (Learning Cycle)?
3.
Apa saja
tipe-tipe siklus belajar (Learning Cycle)?
4.
Apa saja
fase-fase dalam siklus belajar (Learning Cycle)?
5.
Apa keunggulan
dan kelemahan dari model siklus belajar (Learning Cycle)?
6.
Bagaimana
implementasi siklus belajar (Learning Cycle)?
C.
Tujuan
Penulisan
Tujuan
utama dari penulisan makalah ini adalah memenuhi tugas mata kuliah Strategi
Belajar Mengajar Biologi. Adapun tujuan lain dari penulisan makalah ini yaitu
mengetahui ruang lingkup yang mencakup tentang siklus belajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Siklus Belajar (Learning Cycle)
Learning Cycle adalah suatu model pembelajaran yang
berpusat pada siswa (student centered). LC merupakan
rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa
sehingga siswa berperan aktif untuk dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang
harus dicapai dalam tujuan pembelajaran. Model siklus belajar termasuk ke
pendekatan kontruktivistik karena siswa sendiri yang mengkontruksi
pemahamannya.
B.
Hubungan
teori belajar Piaget dalam fase-fase Siklus Belajar (Learning Cycle)
Teori belajar Piaget (Renner et al, 1988), teori
belajar yang berbasis konstruktivisme. Piaget menyatakan bahwa belajar
merupakan pengembangan aspek kognitif yang meliputi: struktur, isi, dan fungsi.
Struktur intelektual adalah organisasi-organisasi mental tingkat tinggi yang
dimiliki individu untuk memecahkan masalah-masalah. Isi adalah perilaku khas
individu dalam merespon masalah yang dihadapi. Sedangkan fungsi merupakan
proses perkembangan intelektual yang mencakup adaptasi dan organisasi (Arifin,
1995).
Adaptasi
terdiri atas asimilasi dan akomodasi. Pada proses asimilasi individu
menggunakan struktur kognitif yang sudah ada untuk memberikan respon terhadap
rangsangan yang diterimanya. Dalam asimilasi individu berinteraksi dengan data
yang ada di lingkungan untuk diproses dalam struktur mentalnya. Dalam proses
ini struktur mental individu dapat berubah, sehingga terjadi akomodasi. Pada
kondisi ini individu melakukan modifikasi dari struktur yang ada, sehingga
terjadi pengembangan struktur mental. Pemerolehan konsep baru akan berdampak
pada konsep yang telah dimiliki individu. Individu harus dapat menghubungkan
konsep yang baru dipelajari dengan konsep-konsep lain dalam suatu hubungan
antar konsep. Konsep yang baru harus diorganisasikan dengan konsep-konsep lain
yang telah dimiliki. Organisasi yang baik dari intelektual seseorang akan
tercermin dari respon yang diberikan dalam menghadapi masalah. Karplus dan
Their (dalam Renner et al, 1988) mengembangkan strategi pembelajaran yang
sesuai dengan ide Piaget di atas. Dalam hal ini pembelajar diberi kesempatan
untuk mengasimilasi informasi dengan cara mengeksplorasi lingkungan,
mengakomodasi informasi dengan cara mengembangkan konsep, mengorganisasikan
informasi dan menghubungkan konsep-konsep baru dengan menggunakan atau
memperluas konsep yang dimiliki untuk menjelaskan suatu fenomena yang berbeda.
Implementasi teori Piaget oleh Karplus dikembangkan menjadi fase eksplorasi,
pengenalan konsep, dan aplikasi konsep.Unsur-unsur
teori belajar Piaget (asimilasi, akomodasi, dan organisasi) mempunyai
korespondensi dengan fase-fase dalam LC (Abraham et al, 1986).
Walaupun
fase-fase Learning Cycle dapat dijelaskan dengan teori Piaget, LC juga pada
dasarnya lahir dari paradigma konstruktivisme belajar yang lain termasuk teori
konstruktivisme sosial Vygotsky dan teori belajar bermakna Ausubel (Dasna,
2005). LC melalui kegiatan dalam tiap fase mewadahi pembelajar untuk secara
aktif membangun konsep-konsepnya sendiri dengan cara
berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial. Implementasi LC dalam
pembelajaran sesuai dengan pandangan kontruktivis yaitu:
1.
Siswa belajar
secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan
berpikir. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa.
2.
Informasi baru
dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa.
3.
Informasi baru
yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu
Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan
penemuan yang merupakan pemecahan masalah. (Hudojo,
2001)
C.
Tipe
Siklus Belajar (Learning Cycle)
Lawson (1995) mengemukakan tiga tipe learning cycle
yaitu:
1.
Deskriptif; para
siswa menemukan pola empiris dalam konteks khusus (eksplorasi); guru memberi
nama pada pola itu (pengenalan istilah atau konsep), kemudian pola itu
ditentukan dalam konteks-konteks lain (aplikasi konsep).
2.
Empiris-induktif;
para siswa juga menemukan pola empiris dalam konteks khusus (eksplorasi),
tetapi mereka selanjutnya mengemukakan sebab-sebab yang mungkin tentang
terjadinya suatu pola.
3.
Hipotesis
deduktif; dimulai dengan pernyataan sebab. Para siswa diminta untuk merumuskan
jawaban-jawaban hipotesis-hipotesis yang mungkin pada terhadap pernyataan itu.
Anton Lawson (1988)
telah mengidentifikasi tiga jenis pelajaran siklus belajar: (1) deskriptif, (2)
empiris-induktif (abductive) dan (3) hipotetis-deduktif. Perbedaan utama antara
masing-masing pelajaran adalah cara di mana siswa mengumpulkan data dan jenis
pola penalaran mereka gunakan selama pelajaran. Menurut Lawson, siswa pelajaran
deskriptif hanya menjelaskan apa yang mereka amati. Dalam empiris-induktif dan
pelajaran hipotetis-deduktif, siswa tidak hanya menjelaskan apa yang mereka
amati, tetapi juga berusaha untuk menghasilkan hipotesis untuk menjelaskan
pengamatan mereka. Plus, di hipotetis-deduktif pelajaran siswa merancang dan
menjalankan percobaan untuk menguji hipotesis mereka. Oleh karena itu,
empiris-induktif dan deduktif hipotetis pelajaran penalaran membutuhkan lebih
kompleks daripada pelajaran deskriptif.
Siklus belajar Deskriptif
hanya membutuhkan penggunaan keterampilan proses dasar (observasi, klasifikasi,
komunikasi, pengukuran, kesimpulan, & prediksi) sedangkan empiris-induktif
dan siklus pembelajaran hipotetis-deduktif melibatkan keterampilan proses dasar
dan terpadu (mengidentifikasi variabel, membangun tabel dan grafik,
menggambarkan hubungan antara variabel, membangun hipotesis, analisis
penyelidikan, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang
penyelidikan, & bereksperimen). Karena keterampilan penalaran terpadu
memerlukan lebih kompleks, tampak bahwa pelajaran deskriptif yang sesuai bagi
siswa yang mengembangkan kemampuan dalam keterampilan dasar. Siswa yang telah
mendapatkan kemahiran dalam keterampilan dasar dan mengembangkan kemampuan
dalam keterampilan yang terintegrasi tidak hanya akan mendapat manfaat dari
pelajaran deskriptif, tetapi juga dari pelajaran deduktif-induktif empiris dan
hipotetis.
Ketiga
tipe learning cycle ini menunjukan suatu kontinum dari sains deskriptif hingga
sains eksperimental. Dengan sendirinya ketiga siklus belajar ini menghendaki
perbedaan dalam inisiatif dan kemampuan penalaran siswa.
D.
Fase Siklus Belajar (Learning Cycle)
Tahapan-tahapan
atau fase-fase pada model pembelajaran Learning Cycle mengalami perkembangan
dari tiga tahapan menjadi 5 tahapan. Pengembangan fase-fase LC dari 3 fase
menjadi 5 atau 6 fase pun masih tetap berkorespondensi dengan mental
functioning dari Piaget.
Menurut
Robert Karplus in the 1960 pada mulanya Learning Cycle terdiri dari tiga
tahapan (fase) yaitu:
1.
Eksplorasi
Pada
tahap (fase) eksplorasi siswa diberikan kesempatan menggunakan fungsi panca
inderanya dalam berinteraksi dengan lingkungan misalnya dalam kegiatan belajar
mengajar melalui beberapa kegiatan seperti praktikum mengidentifikasi fenomena
alam, menganalisis artikel, mendiskusikan fenomena alam dan lain-lain. Dari
beberapa kegiatan tersebut diharapakan memberikan ketidakseimbangan dalam struktur
pemikiran siswa (cognitive disequilibrium) yang ditandai dengan munculnya
pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada berkembangnya daya nalar tingkat
tinggi (high level reasoning) yang diawali dengan kata-kata seperti mengapa dan
bagaimana (Dasna, 2005, Rahayu, 2005). Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut
sekaligus merupakan indikator kesiapan siswa untuk menempuh fase berikutnya.
2.
Pengenalan
Konsep (konsep introduction)
Pada
fase ini diharapkan terjadi proses menuju kesetimbangan antara konsep-konsep
yang telah dimiliki siswa dengan konsep-konsep yang baru dipelajari melalui
kegiatan-kegiatan yang membutuhkan daya nalar seperti menelaah sumber pustaka
dan berdiskusi. Pada tahap ini siswa mengenal istilah-istilah yang berkaitan
dengan konsep-konsep baru yang sedang dipelajari.
3.
Aplikasi konsep
Siswa
diajak menerapkan pemahaman konsepnya melalui kegiatan-kegiatan seperti problem
solving (menyelesaikan problem-problem nyata yang berkaitan) atau melakukan
percobaan lebih lanjut. Penerapan konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep
dan motivasi belajar, karena pebelajar mengetahui penerapan nyata dari konsep
yang mereka pelajari.
Tiga
fase dalam model learning cycle saat ini telah dikembangkan dan disempurnakan
menjadi 5 fase, dan 6 fase. Pada LC 5 fase, ditambahkan tahap engagement
sebelum exploration dan ditambahkan pula tahap evaluation pada bagian akhir
siklus. Pada model ini, tahap concept introduction dan concept application
masing-masing diistilahkan menjadi explaination dan elaboration. Karena itu LC
5 fase sering dijuluki LC 5E yaitu Engagement, Exploration, Explaination,
Elaboration, dan Evaluation (Lorsbach, 2002).
v
Fase-fase Siklus Belajar (Learning
Cycle) 5 E
Ø Engagement
Mempersiapkan
diri siswa agar terkondisi dalam menempuh fase berikutnya dengan jalan
mengeksplorasi pengetahuan awal dan ide-ide mereka serta untuk mengetahui
kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada pembelajaran sebelumnya.
Minat dan keingintahuan (curiosity) pebelajar tentang topik yang akan diajarkan berusaha dibangkitkan. Pada fase ini pula pebelajar diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan dalam tahap eksplorasi
Minat dan keingintahuan (curiosity) pebelajar tentang topik yang akan diajarkan berusaha dibangkitkan. Pada fase ini pula pebelajar diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan dalam tahap eksplorasi
Ø Exploration
Siswa
diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil tanpa
pengajaran langsung dari guru untuk menguji prediksi, melakukan dan mencatat
pengamatan serta ide-ide melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum dan telaah
literatur.
Ø Explanation
Pada
fase explanation, peserta didik mempresentasikan hasil eksplorasinya kepada
kelas dengan cara mereka. Guru harus mendorong siswa untuk menjelaskan konsep
dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan
mereka, dan mengarahkan kegiatan diskusi. Pada tahap ini pebelajar menemukan
istilah-istilah dari konsep yang dipelajari.
Ø Elaboration
Siswa
terlibat dalam diskusi dan akan timbul hal- hal yang baru terkait materi yang
dipresentasikan. Pemahaman yang telah didapatkan dikembangkan dalam diskusi
tersebut. Pada fase inilah guru berperan untuk memperbaiki miskonsepsi yang
dialami anak didiknya.
Ø Evaluation
Pada
tahap akhir, evaluation, dilakukan evaluasi terhadap efektifitas fase-fase
sebelumnya dan juga evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep, atau
kompetensi siswa melalui problem solving dalam konteks baru yang kadang-kadang
mendorong siswa melakukan investigasi lebih lanjut. Untuk mengetahui pemahaman
siswa, dilakukan tes kecil.

Gambar
1. Langkah-langkah Daur Belajar (Sumber: Johnston, 2001)
Berdasarkan
tahapan-tahapan dalam metode pembelajaran bersiklus seperti dipaparkan di atas,
diharapkan siswa tidak hanya mendengar keterangan guru tetapi dapat berperan
aktif untuk menggali dan memperkaya pemahaman mereka terhadap konsep-konsep
yang dipelajari.
Adapun
lima unsur dasar dalam model pembelajaran siklus belajar adalah:
1.
Sintaks meliputi
(1) menghadapkan masalah tentang ekosistem, guru membawa beberapa contoh berbagai
model ekosistem untuk dieksplorasi, (2) siswa menemukan masalahnya dan kemudian
mengeksplorasi model ekosistem tersebut berkelompok untuk menjawab permasalahan
yang telah ia dapatkan, (3) siswa memaparkan hasil temuannya di kelas, (4)
terjadi diskusi untuk membahas miskonsepsi yang terjadi sebelumnya dengan
bimbingan guru, dan (5) mengevaluasi kegiatan yang telah dilalui dan menguji
pemahaman siswa dengan tes kecil.
2.
Sistem sosial
dengan jalan bekerja secara berkelompok untuk mengeksplorasi materi tentang
ekositem. Pada system ini yang dikembangan adalah prinsip kerja sama dan
kesamaan derajat.
3.
Prinsip reaksi
yang harus dikembangkan adalah penyampaian hasil eksplorasi secara lugas dan
dipahami oleh pendengar, memberi kesempatan kepada rekannya yang lain untuk
bertanya dan memberi jawaban tanpa menyinggung perasaan sesamanya.
4.
Sarana pembelajaran
yang diperlukan adalah media pembelajaran berupa model ekosistem, literatur,
dsb dan teknik pembelajaran yang tepat untuk mendukung pelaksanaan model
pembelajaran siklus belajar seperti teknik kerja kelompok.
5.
Produk yaitu
hasil yang diperoleh siswa setelah belajar tentang ekosistem baik berupa
pemahaman, konsep maupun simpulan. Selain itu diharapkan siswa mampu menerapkan
hasil pemahamannya didalam kehidupan.
E.
Keunggulan
dan Kelemahan dari Model Siklus Belajar (Learning Cycle)
1.
Keunggulan yang
dimiliki oleh siklus belajar (learning cycle)
a.
Dapat menumbuhkan kegairahan
belajar peserta didik.
b.
Meningkatkan motivasi belajar,
kerja sama, saling belajar, keakraban, saling menghargai, partisipasi,
kemampuan berbahasa peserta didik.
c.
Lebih berpeluang untuk menyampaikan
pendapat dan gagasan.
d.
Kegiatan belajar lebih mantap.
e.
Pengetahuan yang didapatkan lebih
melekat.
2.
Kelemahan yang
dimiliki oleh siklus belajar (learning cycle)
a.
Persiapannya memerlukan banyak
tenaga, pikiran, alat dan waktu.
b.
Memerlukan pendidik yang mampu
mengelola kelas dan mengatur kerja kelompok dengan baik.
c.
Membutuhkan media, fasilitas dan
biaya yang cukup besar.
d.
Sering didominasi oleh pimpinan
kelompok.
F.
Implementasi
Siklus Belajar (Learning
Cycle)
Implementasi
Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
dalam Learning Cycle.
Dalam
Permendiknas nomor 41 tahun 2007 telah diatur tentang standar nasional
pelaksanaan proses pembelajaran yang meliputi:
1.
Kegiatan
Pendahuluan
Dalam
kegiatan pendahuluan, pendidik mempersiapkan anak didiknya baik secara mental
maupun fisik untuk siap mengikuti kegiatan pembelajaran dan mengenalkan materi
pembelajarannya secara umum dan baik secara langsung atau tidak menyamaikan
tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran saat itu. Guru juga bertanya
kepada anak didiknya untuk mengetahui kemampuan awalnya dan kemungkinan
miskonsepsi yang mereka alami pada pembelajaran sebelumnya. Dalam learning
cycle, tahapan ini termasuk pada fase identifikasi tujuan pembelajaran danenga
gement.
2.
Kegiatan Inti
Pada
fase ini dirancang proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi
peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup
bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan
perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Tahapan
ini meliputi tiga fase yaitu (1) Fase eksplorasi dimana anak didik diberikan
kesempatan yang sangat besar untuk mencari segala informasi yang berkaitan
dengan materi yang diajarkan dari berbagai sumber belajar dengan cara
berinteraksi antar peserta didik baik secara berkelompok ataupun secara
individual. Guru harus memfasilitasi semua kegiatan. Dalam learning cycle,
tahapan ini termasuk exploration. (2) Fase elaborasi dimana anak didik
diberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil belajarnya, menganalisis suatu
permasalahan, mengemukakan pendapat, berkompetisi untuk meningkatkan prestasi
belajar secara sehat dan lain sebagainya. Dalam learning cycle, tahapan ini
termasuk dalam faseexplanation dan elaboration. (3) Fase konfirmasi yaitu anak
didik merefisi miskonsepsi yang telah dialaminya. Pada saat ini guru berperan
untuk memberikan refisi terhadap kekeliruan yang terjadi selama proses—proses
sebelumnya baik dengan jalam ceramah langsung ataupun dengan memberikan
pertanyaan umpan balik kepada anak didiknya. Dalam learning cycle, tahapan ini
termasuk faseevaluation.
3.
Kegiatan Penutup
Pada
kegiatan penutup, guru memberikan evaluasi tentang tahapan yang telah dilewati
sebelumnya. Guru juga memberikan motivasi untuk bereskplorasi lebih jauh
tentang materi yang telah diberikan. Guru memancing siswa untuk menyimpulkan
hasil pembelajaran yang telah mereka lalui. Dalam learning cycle, tahapan ini
juga termasuk fase evaluation.
Dengan
demikian proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru
ke siswa, seperti dalam falsafah behaviorisme, tetapi merupakan proses
pemerolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan siswa secara aktif dan
langsung. Proses pembelajaran demikian akan lebih bermakna dan menjadikan skema
dalam diri pembelajar menjadi pengetahuan fungsional yang setiap saat dapat
diorganisasi oleh pembelajar untuk menyelesaikan masalah-masalah yang
dihadapi.
Sedangkan ditinjau dari dimensi pembelajar, penerapan strategi ini memberi keuntungan sebagai berikut:
Sedangkan ditinjau dari dimensi pembelajar, penerapan strategi ini memberi keuntungan sebagai berikut:
1.
Meningkatkan
motivasi belajar karena pembelajar dilibatkan secara aktif dalam proses
pembelajaran
2.
Membantu
mengembangkan sikap ilmiah pembelajar
3.
Pembelajaran
menjadi lebih bermakna
4.
Pengetahuan yang
didapatkan lebih melekat
Aktivitas belajar yang dikembangkan dalam tiap fase LC bergantung kepada tujuan pembelajaran.
Aktivitas belajar yang dikembangkan dalam tiap fase LC bergantung kepada tujuan pembelajaran.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Siklus belajar merupakan rangkaian dari tahap-tahap
kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga pebelajar dapat
menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan
jalan berperanan aktif.
Tiga macam model siklus belajar yaitu, siklus
belajar Deskriptif, Empiris-induksi, dan siklus belajar Hipotesis deduktif.
Siklus belajar/LC 5 fase sering dijuluki LC 5E yaitu Engagement, Exploration,
Explaination, Elaboration, dan Evaluation (Lorsbach, 2002).
B.
Kritik
dan Saran
Kami
berharap makalah yang sangat sederhana ini dapat memberikan sedikit ilmu bagi
pembacanya dan juga dapat dijadikan bahan literature bagi teman-teman mahasiswa
dalam menulis karya ilmiah.
Kami
menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran
sangat kami perlukan agar dalam penulisan makalah kedepannya dapat menuju ke
arah yang lebih sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Rahayu, S., Prayitno. 2005. Penggunaan
Strategi Pembelajaran Learning Cycle-Cooperative Learning 5E (LCC-5E). Makalah
Seminar Nasional MIPA dan Pembelajarannya. FMIPA UM – Dirjen Dikti Depdiknas.
0 komentar:
Posting Komentar