RSS Feed

Senin, Juni 17, 2013

Learning Cycle

BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Siklus belajar berasal dari kerja Robert Karplus dan teman-temannya selama pengembangan Science Curriculum Improvement Study (SCIS). Bermula, siklus belajar terutama berdasarkan pada pandangan teoritis Jean Piaget, namun demikian hal ini konsisten dengan teori belajar yang lain, seperti yang telah dikembangkan oleh David Ausubel.

Siklus belajar merupakan salah satu metode perencanaan yang telah diakui dalam pendidikan IPA. Siklus belajar dikembangkan berdasarkan teori yang dikembangkan pada masa kini tentang bagaimana siswa seharusnya belajar. Metode ini merupakan metode yang mudah untuk digunakan oleh guru dan dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas belajar IPA pada setiap siswa kita. Guru harus menemukan cara-cara memahami pandangan-pandangan siswa, merencanakan kerangka alternatif, merangsang kebingungan antar siswa dan mengembangkan tugas-tugas yang mengajukan konstruksi pengetahuan.
Menurut Dahar RW (1998) menyatakan bahwa prinsip-prinsip yang paling umum dan esensial yang dapat diturunkan dari konstruktivisme ialah siswa memperoleh pengetahuan diluar sekolah dan pendidikan seharusnya memperhatikan hal tersebut. Dan juga menyatakan bahwa pelajaran kemudian dikembangkan dari gagasan yang telah ada mungkin melalui langkah-langkah intermediet dan berakhir dengan gagasan yang telah mengalami modifikasi. Salah satu model belajar mengajar yang menerapkan konstruktivisme adalah penggunaan model siklus belajar atau sering disebut Learning Cycle.
B.            Rumusam Masalah
1.             Apa pengertian siklus belajar (Learning Cycle)?
2.             Bagaimana Hubungan teori belajar Piaget dalam fase-fase siklus belajar (Learning Cycle)?
3.             Apa saja tipe-tipe siklus belajar (Learning Cycle)?
4.             Apa saja fase-fase dalam siklus belajar (Learning Cycle)?
5.             Apa keunggulan dan kelemahan dari model siklus belajar (Learning Cycle)?
6.             Bagaimana implementasi siklus belajar (Learning Cycle)?

C.           Tujuan Penulisan
Tujuan utama dari penulisan makalah ini adalah memenuhi tugas mata kuliah Strategi Belajar Mengajar Biologi. Adapun tujuan lain dari penulisan makalah ini yaitu mengetahui ruang lingkup yang mencakup tentang siklus belajar.















BAB II
PEMBAHASAN
A.           Pengertian Siklus Belajar (Learning Cycle)
Learning Cycle adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). LC merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa berperan aktif untuk dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam tujuan pembelajaran. Model siklus belajar termasuk ke pendekatan kontruktivistik karena siswa sendiri yang mengkontruksi pemahamannya.
B.            Hubungan teori belajar Piaget dalam fase-fase Siklus Belajar (Learning Cycle)
Teori belajar Piaget (Renner et al, 1988), teori belajar yang berbasis konstruktivisme. Piaget menyatakan bahwa belajar merupakan pengembangan aspek kognitif yang meliputi: struktur, isi, dan fungsi. Struktur intelektual adalah organisasi-organisasi mental tingkat tinggi yang dimiliki individu untuk memecahkan masalah-masalah. Isi adalah perilaku khas individu dalam merespon masalah yang dihadapi. Sedangkan fungsi merupakan proses perkembangan intelektual yang mencakup adaptasi dan organisasi (Arifin, 1995). 
Adaptasi terdiri atas asimilasi dan akomodasi. Pada proses asimilasi individu menggunakan struktur kognitif yang sudah ada untuk memberikan respon terhadap rangsangan yang diterimanya. Dalam asimilasi individu berinteraksi dengan data yang ada di lingkungan untuk diproses dalam struktur mentalnya. Dalam proses ini struktur mental individu dapat berubah, sehingga terjadi akomodasi. Pada kondisi ini individu melakukan modifikasi dari struktur yang ada, sehingga terjadi pengembangan struktur mental. Pemerolehan konsep baru akan berdampak pada konsep yang telah dimiliki individu. Individu harus dapat menghubungkan konsep yang baru dipelajari dengan konsep-konsep lain dalam suatu hubungan antar konsep. Konsep yang baru harus diorganisasikan dengan konsep-konsep lain yang telah dimiliki. Organisasi yang baik dari intelektual seseorang akan tercermin dari respon yang diberikan dalam menghadapi masalah. Karplus dan Their (dalam Renner et al, 1988) mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan ide Piaget di atas. Dalam hal ini pembelajar diberi kesempatan untuk mengasimilasi informasi dengan cara mengeksplorasi lingkungan, mengakomodasi informasi dengan cara mengembangkan konsep, mengorganisasikan informasi dan menghubungkan konsep-konsep baru dengan menggunakan atau memperluas konsep yang dimiliki untuk menjelaskan suatu fenomena yang berbeda. Implementasi teori Piaget oleh Karplus dikembangkan menjadi fase eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep.Unsur-unsur teori belajar Piaget (asimilasi, akomodasi, dan organisasi) mempunyai korespondensi dengan fase-fase dalam LC (Abraham et al, 1986). 
Walaupun fase-fase Learning Cycle dapat dijelaskan dengan teori Piaget, LC juga pada dasarnya lahir dari paradigma konstruktivisme belajar yang lain termasuk teori konstruktivisme sosial Vygotsky dan teori belajar bermakna Ausubel (Dasna, 2005). LC melalui kegiatan dalam tiap fase mewadahi pembelajar untuk secara aktif membangun konsep-konsepnya sendiri dengan cara berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial. Implementasi LC dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan kontruktivis yaitu:
1.             Siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa.
2.             Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa. 
3.             Informasi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu
Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah. (Hudojo, 2001)
C.           Tipe Siklus Belajar (Learning Cycle)
Lawson (1995) mengemukakan tiga tipe learning cycle yaitu:
1.             Deskriptif; para siswa menemukan pola empiris dalam konteks khusus (eksplorasi); guru memberi nama pada pola itu (pengenalan istilah atau konsep), kemudian pola itu ditentukan dalam konteks-konteks lain (aplikasi konsep).
2.             Empiris-induktif; para siswa juga menemukan pola empiris dalam konteks khusus (eksplorasi), tetapi mereka selanjutnya mengemukakan sebab-sebab yang mungkin tentang terjadinya suatu pola.
3.             Hipotesis deduktif; dimulai dengan pernyataan sebab. Para siswa diminta untuk merumuskan jawaban-jawaban hipotesis-hipotesis yang mungkin pada terhadap pernyataan itu.
Anton Lawson (1988) telah mengidentifikasi tiga jenis pelajaran siklus belajar: (1) deskriptif, (2) empiris-induktif (abductive) dan (3) hipotetis-deduktif. Perbedaan utama antara masing-masing pelajaran adalah cara di mana siswa mengumpulkan data dan jenis pola penalaran mereka gunakan selama pelajaran. Menurut Lawson, siswa pelajaran deskriptif hanya menjelaskan apa yang mereka amati. Dalam empiris-induktif dan pelajaran hipotetis-deduktif, siswa tidak hanya menjelaskan apa yang mereka amati, tetapi juga berusaha untuk menghasilkan hipotesis untuk menjelaskan pengamatan mereka. Plus, di hipotetis-deduktif pelajaran siswa merancang dan menjalankan percobaan untuk menguji hipotesis mereka. Oleh karena itu, empiris-induktif dan deduktif hipotetis pelajaran penalaran membutuhkan lebih kompleks daripada pelajaran deskriptif.
Siklus belajar Deskriptif hanya membutuhkan penggunaan keterampilan proses dasar (observasi, klasifikasi, komunikasi, pengukuran, kesimpulan, & prediksi) sedangkan empiris-induktif dan siklus pembelajaran hipotetis-deduktif melibatkan keterampilan proses dasar dan terpadu (mengidentifikasi variabel, membangun tabel dan grafik, menggambarkan hubungan antara variabel, membangun hipotesis, analisis penyelidikan, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penyelidikan, & bereksperimen). Karena keterampilan penalaran terpadu memerlukan lebih kompleks, tampak bahwa pelajaran deskriptif yang sesuai bagi siswa yang mengembangkan kemampuan dalam keterampilan dasar. Siswa yang telah mendapatkan kemahiran dalam keterampilan dasar dan mengembangkan kemampuan dalam keterampilan yang terintegrasi tidak hanya akan mendapat manfaat dari pelajaran deskriptif, tetapi juga dari pelajaran deduktif-induktif empiris dan hipotetis.
Ketiga tipe learning cycle ini menunjukan suatu kontinum dari sains deskriptif hingga sains eksperimental. Dengan sendirinya ketiga siklus belajar ini menghendaki perbedaan dalam inisiatif dan kemampuan penalaran siswa.

D.            Fase Siklus Belajar (Learning Cycle)
Tahapan-tahapan atau fase-fase pada model pembelajaran Learning Cycle mengalami perkembangan dari tiga tahapan menjadi 5 tahapan. Pengembangan fase-fase LC dari 3 fase menjadi 5 atau 6 fase pun masih tetap berkorespondensi dengan mental functioning dari Piaget.
Menurut Robert Karplus in the 1960 pada mulanya Learning Cycle terdiri dari tiga tahapan (fase) yaitu:
1.             Eksplorasi
Pada tahap (fase) eksplorasi siswa diberikan kesempatan menggunakan fungsi panca inderanya dalam berinteraksi dengan lingkungan misalnya dalam kegiatan belajar mengajar melalui beberapa kegiatan seperti praktikum mengidentifikasi fenomena alam, menganalisis artikel, mendiskusikan fenomena alam dan lain-lain. Dari beberapa kegiatan tersebut diharapakan memberikan ketidakseimbangan dalam struktur pemikiran siswa (cognitive disequilibrium) yang ditandai dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada berkembangnya daya nalar tingkat tinggi (high level reasoning) yang diawali dengan kata-kata seperti mengapa dan bagaimana (Dasna, 2005, Rahayu, 2005). Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus merupakan indikator kesiapan siswa untuk menempuh fase berikutnya.
2.             Pengenalan Konsep (konsep introduction) 
Pada fase ini diharapkan terjadi proses menuju kesetimbangan antara konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dengan konsep-konsep yang baru dipelajari melalui kegiatan-kegiatan yang membutuhkan daya nalar seperti menelaah sumber pustaka dan berdiskusi. Pada tahap ini siswa mengenal istilah-istilah yang berkaitan dengan konsep-konsep baru yang sedang dipelajari. 
3.             Aplikasi konsep
Siswa diajak menerapkan pemahaman konsepnya melalui kegiatan-kegiatan seperti problem solving (menyelesaikan problem-problem nyata yang berkaitan) atau melakukan percobaan lebih lanjut. Penerapan konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi belajar, karena pebelajar mengetahui penerapan nyata dari konsep yang mereka pelajari. 
Tiga fase dalam model learning cycle saat ini telah dikembangkan dan disempurnakan menjadi 5 fase, dan 6 fase. Pada LC 5 fase, ditambahkan tahap engagement sebelum exploration dan ditambahkan pula tahap evaluation pada bagian akhir siklus. Pada model ini, tahap concept introduction dan concept application masing-masing diistilahkan menjadi explaination dan elaboration. Karena itu LC 5 fase sering dijuluki LC 5E yaitu Engagement, Exploration, Explaination, Elaboration, dan Evaluation (Lorsbach, 2002).

v   Fase-fase Siklus Belajar (Learning Cycle) 5 E
Ø   Engagement 
Mempersiapkan diri siswa agar terkondisi dalam menempuh fase berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal dan ide-ide mereka serta untuk mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada pembelajaran sebelumnya.
Minat dan keingintahuan (curiosity) pebelajar tentang topik yang akan diajarkan berusaha dibangkitkan. Pada fase ini pula pebelajar diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan dalam tahap eksplorasi
Ø   Exploration
Siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru untuk menguji prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum dan telaah literatur. 
Ø   Explanation
Pada fase explanation, peserta didik mempresentasikan hasil eksplorasinya kepada kelas dengan cara mereka. Guru harus mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka, dan mengarahkan kegiatan diskusi. Pada tahap ini pebelajar menemukan istilah-istilah dari konsep yang dipelajari.
Ø   Elaboration
Siswa terlibat dalam diskusi dan akan timbul hal- hal yang baru terkait materi yang dipresentasikan. Pemahaman yang telah didapatkan dikembangkan dalam diskusi tersebut. Pada fase inilah guru berperan untuk memperbaiki miskonsepsi yang dialami anak didiknya. 
Ø   Evaluation
Pada tahap akhir, evaluation, dilakukan evaluasi terhadap efektifitas fase-fase sebelumnya dan juga evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep, atau kompetensi siswa melalui problem solving dalam konteks baru yang kadang-kadang mendorong siswa melakukan investigasi lebih lanjut. Untuk mengetahui pemahaman siswa, dilakukan tes kecil.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijxLwkJslzisxhFxvL2Jn7q42Q_wLq0mXzpQuC_pasxNc_GtM7IClwufYoE26z7yklMKtm1y55nTEMjNECClj4JxJlQ705-iABeOxohRi_bdaATusMJr3Maupc-adnYDSUaEpuYxm4_e5-/s320/Untitled.jpg
Gambar 1. Langkah-langkah Daur Belajar (Sumber: Johnston, 2001)

Berdasarkan tahapan-tahapan dalam metode pembelajaran bersiklus seperti dipaparkan di atas, diharapkan siswa tidak hanya mendengar keterangan guru tetapi dapat berperan aktif untuk menggali dan memperkaya pemahaman mereka terhadap konsep-konsep yang dipelajari.
Adapun lima unsur dasar dalam model pembelajaran siklus belajar  adalah:
1.             Sintaks meliputi (1) menghadapkan masalah tentang ekosistem, guru membawa beberapa contoh berbagai model ekosistem untuk dieksplorasi, (2) siswa menemukan masalahnya dan kemudian mengeksplorasi model ekosistem tersebut berkelompok untuk menjawab permasalahan yang telah ia dapatkan, (3) siswa memaparkan hasil temuannya di kelas, (4) terjadi diskusi untuk membahas miskonsepsi yang terjadi sebelumnya dengan bimbingan guru, dan (5) mengevaluasi kegiatan yang telah dilalui dan menguji pemahaman siswa dengan tes kecil.
2.             Sistem sosial dengan jalan bekerja secara berkelompok untuk mengeksplorasi materi tentang ekositem. Pada system ini yang dikembangan adalah prinsip kerja sama dan kesamaan derajat.
3.             Prinsip reaksi yang harus dikembangkan adalah penyampaian hasil eksplorasi secara lugas dan dipahami oleh pendengar, memberi kesempatan kepada rekannya yang lain untuk bertanya dan memberi jawaban tanpa menyinggung perasaan sesamanya.
4.             Sarana pembelajaran yang diperlukan adalah media pembelajaran berupa model ekosistem, literatur, dsb dan teknik pembelajaran yang tepat untuk mendukung pelaksanaan model pembelajaran siklus belajar seperti teknik kerja kelompok.
5.             Produk yaitu hasil yang diperoleh siswa setelah belajar tentang ekosistem baik berupa pemahaman, konsep maupun simpulan. Selain itu diharapkan siswa mampu menerapkan hasil pemahamannya didalam kehidupan.
E.            Keunggulan dan Kelemahan dari Model Siklus Belajar (Learning Cycle)
1.             Keunggulan yang dimiliki oleh siklus belajar (learning cycle)
a.    Dapat menumbuhkan kegairahan belajar peserta didik.
b.    Meningkatkan motivasi belajar, kerja sama, saling belajar, keakraban, saling menghargai, partisipasi, kemampuan berbahasa peserta didik.
c.    Lebih berpeluang untuk menyampaikan pendapat dan gagasan.
d.   Kegiatan belajar lebih mantap.
e.    Pengetahuan yang didapatkan lebih melekat.
2.             Kelemahan yang dimiliki oleh siklus belajar (learning cycle)
a.    Persiapannya memerlukan banyak tenaga, pikiran, alat dan waktu.
b.    Memerlukan pendidik yang mampu mengelola kelas dan mengatur kerja kelompok dengan baik.
c.    Membutuhkan media, fasilitas dan biaya yang cukup besar.
d.   Sering didominasi oleh pimpinan kelompok.
F.            Implementasi Siklus Belajar (Learning Cycle)
Implementasi Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses  untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Learning Cycle.
Dalam Permendiknas nomor 41 tahun 2007 telah diatur tentang standar nasional pelaksanaan proses pembelajaran yang meliputi:
1.             Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan, pendidik mempersiapkan anak didiknya baik secara mental maupun fisik untuk siap mengikuti kegiatan pembelajaran dan mengenalkan materi pembelajarannya secara umum dan baik secara langsung atau tidak menyamaikan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran saat itu. Guru juga bertanya kepada anak didiknya untuk mengetahui kemampuan awalnya dan kemungkinan miskonsepsi yang mereka alami pada pembelajaran sebelumnya. Dalam learning cycle, tahapan ini termasuk pada fase identifikasi tujuan pembelajaran danenga gement.
2.             Kegiatan Inti
Pada fase ini dirancang proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Tahapan ini meliputi tiga fase yaitu (1) Fase eksplorasi dimana anak didik diberikan kesempatan yang sangat besar untuk mencari segala informasi yang berkaitan dengan materi yang diajarkan dari berbagai sumber belajar dengan cara berinteraksi antar peserta didik baik secara berkelompok ataupun secara individual. Guru harus memfasilitasi semua kegiatan. Dalam learning cycle, tahapan ini termasuk exploration. (2) Fase elaborasi dimana anak didik diberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil belajarnya, menganalisis suatu permasalahan, mengemukakan pendapat, berkompetisi untuk meningkatkan prestasi belajar secara sehat dan lain sebagainya. Dalam learning cycle, tahapan ini termasuk dalam faseexplanation dan elaboration. (3) Fase konfirmasi yaitu anak didik merefisi miskonsepsi yang telah dialaminya. Pada saat ini guru berperan untuk memberikan refisi terhadap kekeliruan yang terjadi selama proses—proses sebelumnya baik dengan jalam ceramah langsung ataupun dengan memberikan pertanyaan umpan balik kepada anak didiknya. Dalam learning cycle, tahapan ini termasuk faseevaluation.
3.             Kegiatan Penutup
Pada kegiatan penutup, guru memberikan evaluasi tentang tahapan yang telah dilewati sebelumnya. Guru juga memberikan motivasi untuk bereskplorasi lebih jauh tentang materi yang telah diberikan. Guru memancing siswa untuk menyimpulkan hasil pembelajaran yang telah mereka lalui. Dalam learning cycle, tahapan ini juga termasuk fase evaluation.
Dengan demikian proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa, seperti dalam falsafah behaviorisme, tetapi merupakan proses pemerolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan siswa secara aktif dan langsung. Proses pembelajaran demikian akan lebih bermakna dan menjadikan skema dalam diri pembelajar menjadi pengetahuan fungsional yang setiap saat dapat diorganisasi oleh pembelajar untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi.
Sedangkan ditinjau dari dimensi pembelajar, penerapan strategi ini memberi keuntungan sebagai berikut:
1.             Meningkatkan motivasi belajar karena pembelajar dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran
2.             Membantu mengembangkan sikap ilmiah pembelajar
3.             Pembelajaran menjadi lebih bermakna
4.             Pengetahuan yang didapatkan lebih melekat
Aktivitas belajar yang dikembangkan dalam tiap fase LC bergantung kepada tujuan pembelajaran.

                                                                                                                   














BAB III
PENUTUP
A.           Kesimpulan
Siklus belajar merupakan rangkaian dari tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga pebelajar dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif.
Tiga macam model siklus belajar yaitu, siklus belajar Deskriptif, Empiris-induksi, dan siklus belajar Hipotesis deduktif. Siklus belajar/LC 5 fase sering dijuluki LC 5E yaitu Engagement, Exploration, Explaination, Elaboration, dan Evaluation (Lorsbach, 2002).
B.            Kritik dan Saran
Kami berharap makalah yang sangat sederhana ini dapat memberikan sedikit ilmu bagi pembacanya dan juga dapat dijadikan bahan literature bagi teman-teman mahasiswa dalam menulis karya ilmiah.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran sangat kami perlukan agar dalam penulisan makalah kedepannya dapat menuju ke arah yang lebih sempurna.








DAFTAR PUSTAKA
Rahayu, S., Prayitno. 2005. Penggunaan Strategi Pembelajaran Learning Cycle-Cooperative Learning 5E (LCC-5E). Makalah Seminar Nasional MIPA dan Pembelajarannya. FMIPA UM – Dirjen Dikti Depdiknas.

0 komentar: