RSS Feed

Selasa, Maret 26, 2013

Protozoa


BAB I
PENDAHULUAN

A.‎ Latar Belakang ‎

Dalam penelitian Protozoa memiliki arti protos artinya pertama dan zoon ‎artinya hewan. Jadi,Protozoa adalah hewan pertama. Protozoa merupakan ‎kelompok lain protista eukariotik. Hewan bersel satu (Protozoa) sangat ‎beraneka ragam, umumnya mikroskopis, hidup di tempat-tempat yang lembab ‎‎(berair) bahkan di dalam tubuh organisme lain. Ada yang hidup bebas, ‎komensal dan ada pula yang parasit pada hewan lain.‎

Tubuh Protozoa yang hanya satu sel itu, bebtuknya bermacam – macam ‎ada yang tidak tetap dan ada yang tetap. Bentuk tetap ini disebabkan telah ‎memiliki pelliculus (kulit) dan beberapa mempunyai cangkang kapur.‎
Alat gerak Protozoa ada bermacam - macam dari yang sederhana berupa ‎pseudopodia sampai flagella dan silia. Pseudopodia dibentuk dari ektoplasma, ‎kemudian endoplasma mengikutinya. Flagella merupakan ciri dari kelas ‎Mastigophora sedangkan silia merupakan ciri kelas dari Ciliata, dan kedua alat ‎gerak tersebut mempunyai kemiripan dalam ultrastruktur. Kedua merupakan “ ‎benang bergetar”, tersusun atas dua fiber pada pusat dan 9 dikelilinginya yang ‎timbul dari basal granula dari kinestom.‎










B.‎ Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah Protozoa adalah :‎
‎1.‎ Pengertian dan ciri-ciri umum Filum Protozoa
‎2.‎ Struktur tubuh pada Protozoa ‎
‎3.‎ Fisiologi hewan pada Protozoa ‎
‎4.‎ Habitat dan Ekologi pada Protozoa ‎
‎5.‎ Klasifikasi pada Protozoa ‎
C.‎ Tujuan Masalah
Tujuan dari penulisan makalah Filum Protozoa ini adalah:‎
‎1.‎ Untuk mempermudah mempelajari  filum Protozoa secara mendetail.‎
‎2.‎ Untuk lebih mudah mengenal bagian-bagian dari Filum Protozoa.‎
‎3.‎ Untuk mempermudah memahami subfilum-subfilum yang ada pada ‎Filum Protozoa.‎
‎4.‎ Mengenal dan mengerti bentuk atau ciri-ciri yang ada pada gambar  ‎filum Protozoa.‎
‎5.‎ Menguasai makalah Filum Protozoa.‎














BAB II
PEMBAHASAN ‎

Pengertian Filum Protozoa ‎
Filum Protozoa merupakan hewan yang tubuhnya terdiri dari satu sel. Nama ‎Protozoa berasal dari bahasa latin yang berarti”Hewan yang pertama” ‎‎(proto:awal, zoon:hewan). Hewan filum ini hidup di daerah yang lembab dan ‎berarir, misalnya: di air tawar, air laut, air payau, dan tanah bahkan didalam ‎tubuh organisme lain. Protozoa ada yang hidup bebas, komensal maupun ‎parasit pada hewan lain. ‎

A.‎ Ciri – ciri umum Protozoa  ‎
Ciri umum hewan yang tergolong Filum Protozoa adalah sebagai berikut:‎
Tubuh hewan ini tersusun atas sel, ukurannya beberapa mikron ‎sampai beberapa millimeter, jadi umumnya bersifat mikroskopis.‎
Umumnya hidup secara individual, tetapi ada yang hidup secara ‎berkoloni. Ada yang hidup bebas di air komensal dan ada pula ‎yang bersifat parasit pada hewan lain.‎
Umumnya berkembangbiak dengan membelah diri, tetapi ada juga ‎yang mengadakan konyugasi dan ada pula yang membentuk spora.‎
Makanannya :bakteri, hewan bersel satu lainnya atau sisa – sisa ‎organisme. Cara mengambil makanannya ada yang saprozoik ‎‎(memakn atau menguraikan bangkai hewan) holofitik (memakan ‎tumbuhan) dan holozoik (memakan hewan).‎
Cara bergerak ada yang menggunakan : flagella, silia, pseudopodia, ‎bahkan ada yang tidak memiliki alat gerak, khususnya pada saat ‎dewasa. ‎

B.‎ Struktur tubuh
Tubuh Protozoa yang hanya satu sel itu, bebtuknya bermacam – macam ‎ada yang tidak tetap dan ada yang tetap. Bentuk tetap ini disebabkan telah ‎memiliki pelliculus (kulit) dan beberapa mempunyai cangkang kapur.‎
Sitoplasma Protozoa sebagian besar tidak berwarna, tetapi beberapa ‎species yang kecil, misalnya Stentor coereleus berwarna biru, Blephrisma ‎laterilia berwarna merah atau merah muda. Dua bagian sitoplasma  biasanya ‎dibedakan atas pinggiran yang disebut Ectoplasma dan bagian sentral yang ‎lebih padat dan bergranula yang disebut  Endoplasma.‎
Nukleus protozoa umumnya hanya sebuah, tapi ada yang lebih, misalnya ‎Arcella vulgaris atau opalina ranarum. Ciliate umumnya mempunyai dua tipe ‎nuklei dan ciri nukleus umumnya bulat, tetapi ada juga yang oval, misalnya ‎pada paramencium. Bentuk seperti ginjal Balantidium coli, sedangkan bebtuk ‎menasbih (monilitiform) terdapat pada spirostomum.‎
Vakuola yang terdapat dalam protozoa dapat dibedakan atas vakuola ‎kontraktil, vakuola makanan, vakuola stasionar. Vakuola yang terakhir itu ‎‎(stasionari) yang mengandung cairan berisi Kristal – Kristal, butiran – butiran ‎minyak dan materi lainnya, yang terdapat dalam tubuh Protozoa. Vakuola ‎makanan dan vakuola kontraktil terdapat pada Protozoa air tawar, tetapi tidak ‎terdapat pada sebagian besar protozoa yang hidup parasit dan hidup di air ‎laut. Fungsi vakuola kontraktil kecuali sebagai alat ekskresi juga berfungsi ‎sebagai pengatur tekanan osmosis tubuh.‎
Mitokondria terdapat dalam Protozoa pada bagian yang melakukan ‎pernapasan secara aerobic. Pada sebagian besar mitokondria mempunyai ‎tubulus pada bagian dalamnya. Mitokondria erat hubungannya ‎denganpenggunaan energy untuk alat gerak dan vakuola kontraktil.‎
Pada umumnya paling sedikit terbungkus oleh membran yang mempunyai ‎sedikit granula seluas permukaannya. Membrane memegang peranan dalam ‎sistem pengangkutan enzim, sehingga menimbulkan metabolism yang efesien. ‎Pada sebagian besar species, membran itu telah dilapisi oleh lapisan lain, ‎sehingga terbentuk atau kulit (pelliculus) yang tegar sehingga protozoa yang ‎bersangkutan mempunyai bentuk yang tetap.‎

C.‎ Fisiologi Hewan
‎1.‎ Sistem Alat gerak ‎
Alat gerak Protozoa ada bermacam - macam dari yang sederhana ‎berupa pseudopodia sampai flagella dan silia. Pseudopodia dibentuk dari ‎ektoplasma, kemudian endoplasma mengikutinya. Flagella merupakan ciri ‎dari kelas Mastigophora sedangkan silia merupakan ciri kelas dari Ciliata, ‎dan kedua alat gerak tersebut mempunyai kemiripan dalam ultrastruktur. ‎Kedua merupakan “ benang bergetar”, tersusun atas dua fiber pada pusat ‎dan 9 dikelilinginya yang timbul dari basal granula dari kinestom.‎

‎2.‎ Sistem Respirasi ‎
Reaspirasi terjadi dengan cara aerob atau anaerob. Pada respirasi aerob ‎terjadi oksidari O2 yang masuk dalam tubuh dengan cara difusi dan ‎osmosis melalui seluruh permukaan tubuh, sedangkan pada anaerob terjadi ‎pembongkaran zat yang komlpeks menjadi zat yang sederhana dengan ‎menggunakan enzim – enzim tanpa memerlukan oksigen. Hasil kedua ‎peristiwa itu akan sama yakni dihasilkan energy dan zat sisa – sisa yang ‎akan ditampung dalam vakuola kontraktil sebagai zat ekskresi.‎

‎3.‎ Sistem Pencernaan
Terdapat beberapa tipe dalam mendapatkan nutrisi pada Protozoa  ‎yakni: holozoik,holofitik dan saprozoik. Amoeba dan paramecium ‎mengambil makanan yang relatif keras yang ditangkap dengan ‎pseudopodia,kemudian dibentuk vakuala makanan,cara ini disbut ‎holozoik. Cara mendapatkan nutrisi secara holofitik terjadi pada ‎phytomastigophorea. Pada protozoa holozoik makanan dalam vakuala ‎makanan akan mendapat sekresi enzim,sehinga makanan berubah menjadi ‎senyawa yang sederhana dan disebarkan keseluruh tubuh.  Pelarutan ‎protein,karbohidrat dan lemak terjadi dari disintegrasi bahan tanaman atau ‎hewan yang telah mati.‎

‎4.‎ Sistem Reproduksi ‎
Perkembangbiakan Protozoa :‎
‎1.‎ Umumnya dengan membelah diri; setiap individu membelah ‎menjadi dua bagian yang sama, dimulai dari intinya kemudian ‎diikuti dengan sitoplasmanya;‎
‎2.‎ Pembelahan multipel atau sporulasi yaitu inti membagi diri ‎berulang kali, kemudian sitoplasma keturunan;‎
‎3.‎ Plasmatomi yaitu pembelahan protozoa berinti banyak tanpa ‎pembelahan inti,menghasilkan keturunan yang lebih kecil dan ‎berinti banyak;‎
‎4.‎ Pertunasan ialah individu baru timbul sebagai tunas dari sel induk ‎yang berdiferensiasi sebelum atau sesudah hidup bebas;‎
‎5.‎ Reproduksi seksual dapat terjadi oleh karena persatuan dari sel ‎‎(bisa isogamete atau heterogamet) membentuk individu baru, atau ‎dengan persatuan sementara dan pertukaran inti(konyugasi) dari ‎dua protozoa.‎

D.‎ Habitat dan Ekologi
Protozoa hidup pada semua habitat yang memungkinkan hewan itu ‎hidup, dan hubungan hewan itu dengan alam sekitarnya memungkinkan kita ‎mempelajari ekologinya. Protozoa secara mutlak memerlukan lingkungan yang ‎basah miasalnya dalam air baik air tawar maupun air begaram bahkan dalam ‎tanah yang basah sampai kedalaman kurang lebih 20cm, dalam tubuh manusia ‎atau hewan  tingkat tinggi lain yang bercairan atau disemua tempat yang basah ‎dimana saja. Tiap –tiap species mempunyai peranan dalam struktur trophik ‎‎(makanan), atau siklus energi. Beberapa protozoa yang berflagella yang ‎mengandung kloropil dapat mempikasi dan menyimpan energi dari matahari ‎dalam bentuk bahan makanan, tetapi sebagian besar protozoa adalah sebagai ‎konsumen bahan makanan dari makhluk lain, baik sebagai konsumen primer, ‎maupun konsumen sekunder.‎

E.‎ Klasifikasi ‎
Klasifikasi hewan – hewan satu sel ini pun beraneka ragam, masing- ‎masing  ahli memiliki pendapat yang berdeda – beda. Bahkan beberapa ahli ‎biologi ada yang memasukkan protozoa kedalam Kingdom Protista bersama – ‎sama alga dan jamur. Golongan Protista adalah eukarion (intinya telah ‎terbungkus membran) baik uni maupun multseluler, dan menghasilkan gamet ‎dalam bentuk sel tunggal. Zygote telah membentuk membrio. ‎
Di samping itu sifat atau ciri beberapa species Protozoa memperhatikan ‎hubungan kekerabatanyang lebih dekat dengan tumbuhan multiseluler dari ‎pada species Protozoa lainnya, misalnya : Euglena, merupakan flagelata yang ‎berklorofil, dalam proses reproduksinya menghasilkan zoospora yang motil. ‎Sifat ini juga dimilki oleh Alga hijau yang multiseluler. Namun demikian ‎kebanyakan para ahli biologi tetap mengelompokkan Protozoa sebagai filum ‎tersendiri.‎
Barnes (1974) mengklasifikasikan Filum Protozoa berdasarkan alat gerak ‎dan perbedaan – perbadaan organela lainnya. Klsaifikasi menurut Barnes ‎adalah sebagai berikut :‎
‎1.‎ Subfilum Sarcomatigophora
Superklas Mastighopora/Flagelata
‎1)‎ Kelas Phytomastigophorea:‎
Ordo Chrysomonadida
Contohnya : Synura, Chromudina
Ordo Silicoflagellida
Contohnya : Dictvocha
Ordo Coccolithophorida
Contohnya : Cocclithus
Ordo Heterochorida ‎
Contohnya : Hetrochloria, Myxcchloria
Ordo Chryptomonadida
Contohnya : Chilomonae
Ordo Dinoflagellida
Contohnya : Nuctiluca, Ceratium
Ordo Ebriida
Contohnya : Eoria
Ordo Euglenida
Contohnya : Euglena, Phacus
Ordo Chloromononadida
Contohnya : Gonyostomum
Ordo Volvocida
Contohnya : Chlamydomonas, Volvox
‎2)‎ Klas Zoomastigophora
Ordo Choanoflagellida
Contohnya : Codosiga, Proterospangia
Ordo Bicossoecida
Contohnya : Poteriodendron
Ordo Rhyzomastigida
Contohnya : Matigamoeba, Dimorpha
Ordo Kinetoplastida
Contohnya : Leismania, Trypanosoma
Ordo Diplomonadida
Contohnya :Giardia
Ordo Oxymonadida
Contohnya : Oxymonas
Ordo Trichomonadida
Contohnya : Trichomonas
Ordo Hypermastigida
Contohnya : Trichonympha
Superklas Sarcodina
‎1)‎ Kelas Rhizopodae
Subklas Lobosia
Ordo Amoebida
Contohnya : Amoeba, Entamoeba
Ordo Arcellinida
Contohnya : Arcella, Difflugia
Subklas Filosia
Contohnya : Penardia ‎
Subklas Granulareticulosia
Ordo Athalamida
Contohnya : Biomyxa
Ordo Foraminiferida
Contohnya : Globigerina, Orbulina
‎2)‎ Klas Piroplasmae
Contohnya : Babesia
‎3)‎ Klas Actinopodae
Subklas Radiolaria
Subklas Acantharia
Contohnya : Actinophrya
Subklas Proteomyxida
Contohnya : Vampyrella
‎2.‎ Subfilum Sporozoa
a)‎ Klas Telosporea
Subklas Gregarina
Contohnya : Gregarina, Monocystis
Subklas Coccidia
Contohnya : Eimeria, Isospora, Plasmodium
b)‎ Klas Toxoplasma
Contohnya : Toxoplasma
c)‎ Klas Microsporidea
Contohnya : Nusema, Glugea

‎3.‎ Subfilum Ciliophora
a.‎ Klas Ciliatea
Subklas Holotrichia ‎
Ordo Gymnostomatida
Contohnya : Coleps ,Didinium ‎
Ordo Trichostomatida ‎
Contohnya : Balantidium ‎
Ordo Chonotricida ‎
Contohnya : Hyalophysa ‎
Ordo Astomatida
Contohnya : Anophlophrya
Ordo hymenostomatida
Contohnya : Paramecium ‎
Ordo Thigmotrichida
Contohnya : boveria



Subklas Peritrichia
Ordo Peritrichida
Contohnya : Vrticell‎
Subklas Suctoria
Ordo Suctorida
Contohnya : Podophrya ‎
Subklas Spirotrichia
Ordo Heterotricchida
Contohnya : Stentor, Spirostomum
Ordo Oligotrichida
Contohnya : Halteria
Ordo Tintinnida
Contohnya : Codonella
Ordo Entodiniomorphida
Contohnya : Entodinium
Ordo Odontostomatida
Contohnya : Saprodinium
Ordo Hypotrichida
Contohnya : Stylonychia

Penjelasan Klasifikasi menurut Barnes(1974)‎
  Subfilum Sarcomastigophora
Superklas Mastigophora/Flagelata
o Dinding tubuh pellicle (pesikel) dan bentuk relative tetap.‎
o Bergerak dengan flagellum (bulu getar).‎
o Memiliki inti dan kloroplast dengan klorofilnya untuk ‎fotosintesis.‎
o Respirasi secara difusi dengan permukaan tubuh.‎
o Ekskresi dengan permukaan tubuh, selain itu dengan vakuola ‎kontraktil bagi yang hidup bebas, sementara yang parasit tidak ‎ada vakuola kontraktil.‎
o Vakuola kontraktil selain sebagai alat ekskresi juga berfungsi ‎sebagai osmoregulator (mengatur keseimbangan air).‎
o Bagi yang berklorofil holofilik dan yang tidak pencernaan ‎makanan secara internal pada vskuols makanan.‎
‎ Reproduksi secara vegetatif dengan pembelahan biner secara ‎longitudinal dan generatif pada flagellata berkoloni misalnya Volvox ‎sp. Prosesnya, sperma dan ovum mengalami fertilisassi menghasilkan ‎zigot, lalu zigospora, kemudian zoospora dan terbentuk individu baru. 
Fllagelata ada yang hidup bebas dan ada juga yang parasit. Flagellata ‎yang hidup bebas : Euglena viridis, Phacus, Pleodorina, Eudorina, ‎Bodo, Noctiluca, Astasia, Volvox dan Synura(koloni), ‎Chlamidomonas, Oxymonas dan Pyrsonimpha (simbiosis). Sedangkan, ‎flagellata yang hidup parasit : Trypanosoma dan Leishmania. ‎
Superklas mastigophora mencakup protozoa yang ‎menggunakan flagella (bulu cambuk) sebagai alat gerak dewasa. ‎‎(mastik=cambuk) dan dianggap sebagai protozoa yang paling ‎sederhana (primitif). Superklas ini dibedakan menjadi dua kelas: yaitu, ‎Phytomastigophorea dan Zoomastigophorea
o Kelas phytomastigophorea mempunyai ‎ciri-ciri : biasanya mempunyai 1 atau 2 ‎flagela, mempunyai chromaplas ‎‎(chromatophor) untuk fotosintesis ‎‎(holophitic). Beberapa spesies yang ‎terkenal antara lain: Euglena, Volvox, ‎Chalmydomonas, Paranema.‎
o Klas Zoomastigophorea mempunyai ciri-‎ciri: flagelanya satu sampai beberapa ‎buah, tidak mempunyai chromaplas, ‎holozoic, atau saprozoic, beberapa jenis ‎hidup bebas tetapi kebanyakan ‎komensal, simbiosis atau parasit pada ‎hewan lain terutama golongan artropoda ‎dan vertebrata. Beberapa contoh yang ‎terkenal antara lain : Leishmania, ‎Trypanosoma. ‎


Euglena
Hewan ini banyak dijumpai di kolam – kolam ‎dan sering memberikan warna hijau pada air kolam. Hal ‎ini disebabkan hewan tersebut memiliki kloroplas di ‎dalam tubuhnya.‎
 
Gambar skematis Euglena gracilis (Ruppet dan Barnes ‎‎1994)‎
Pada lapisan endoplasma terdapat butir hijau ‎daun, sehingga hewan ini dapat menyelenggarakan ‎proses fotosintesis dengan menghasilkan zat tepung ‎‎(amillum).‎
Hewan Euglena dapat bergerak maju kedepan ‎secara spiral rotasi dengan menggunakan flagellumnya ‎atau merayap pada suatu dasar tanpa menggunakan ‎flagellumnya atau euglenoid. Euglenoid artinya bergrak ‎dengan cara mengerutkan tubuhnya, kemudian agak ‎membulat dan akhirnya memanjang lagi seperti posisi ‎semula. ‎
Sebagaian besar hewan ini mendapatkan ‎makanannya dari hasil fotosintensis berti mendapatkan ‎makanannya secara holophytic. Tetapi bisa juga secara ‎saprozoic, berarti menyerap makanan melalui seluruh ‎permukaan tubuhnya, dan makanan ini berupa partikel – ‎partikel hancuran makhluk yang telah mati. ‎
Euglena berkembangbiakkan dengan membelah ‎secara Binair Logitudinal (membelah kea rah ‎memanjang), dimulai inti membelah menjadi ‎duakemudian diikuti oleh bagian tubuhnya dari arah ‎depan belakang. Didalam kista hewan ini juga bisa ‎membelah secara longitudinal dan sering dijumpai 2 ‎sampai 32 individu baru di dalam satu kista. ‎
Beberapa contoh flagella yang lain :‎
i.‎ Chilomonas paramencium ,hidup di air ‎tawar, tubuhnya dilengkapi dengan dua ‎buah flagella yang terletak di ujung ‎anterior.‎
ii.‎ Volvox globator, berbentuk koloni tiap ‎individu bercambuk 2, hidup di air ‎tawar.‎
iii.‎ Noctiluca miliaris, bercambuk 2 atau ‎lebih kecil dan lebih pendek, hidupnya ‎di laut. Hewan ini bersifat luminescent ‎‎(mengeluarkan cahaya seperti kunang-‎kunang)‎
iv.‎ Trypanosoma gambiense, parasit yang ‎hidup dalam tubuh manusia, penyebab ‎penyakit tidur. Penyakit ini ditularkan ‎oleh lalat tse-tse.‎
v.‎ Trypanosome rhodensience, penyebab ‎penyakit tidur.‎
vi.‎ Tryopanosoma evanse, penyebab ‎penyakit surrah pada ternak (sapi, ‎kerbau, kuda).‎
vii.‎ Trypanosome crusi, menyebabkan ‎penyakit chagas di Amerika selatan ‎tengah, karena diserang darah dan ‎jaringan lain, maka bisa menyebabkan ‎anemia. Gejala penyakit chages dapat ‎dilihat dari pembengkkan pada pelupuk ‎mata.‎
viii.‎ Leismania donovani, menyebabkan ‎penyakit kala azar pada manusia, yang ‎diserang adalah bagian visceral, gejala ‎demam tidak menentu, limpa dan hati ‎yang bersangkutan membesar dan terjadi ‎ulcceratio pada dinding usus.‎

Superklas sarcodina/Rhizopoda
o Dinding tubuh plasmolemma dan bentuk ‎berubah-ubah.‎
o ‎ Bergerak dengan pseudopodium : lobopodia ‎‎(berkantung tumpul), filopodia (bentuk ‎jarum/tabung), aksopodia (jarum/tabung tidak ‎bercabang), dan retikulopodia (berrcabang lebih ‎dari satu).‎
o Memiliki inti jelas.‎
o Respirasi dengan permukaan tubuh secara ‎difusi.‎
o Ekskresi dengan permukaan tubuh, selain itu ‎dengan vakuola kontraktil bagi yang hidup ‎bebas, sementara yang parasit tidak ada vakuola ‎kontraktil.‎
o Vakuola kontraktil selain sebagai alat ekskresi ‎juga berfungsi sebagai osmoregulator (mengatur ‎keseimbangan air).‎
o ‎ Pencernaan makanan secara internal pada ‎vakuola makanan.‎
o ‎ Reproduksi vegetatif dengan pembelahan biner ‎secara ortodhox. 
Rhizopoda ada yang hidup bebas dan ada juga ‎yang parasit. Rhizopoda yang hidup bebas : ‎Amoeba proteus, Arcella, Difflugia, ‎Globigerina, Actinophrys. Rhizopoda yang ‎hidup parasit : Entamoeba dysentriae, ‎Entamoeba gingivalis, Entamoeba coli.‎
Protozoa ini menggunakan pseudopodia (kaki semu) ‎sebagai organel gerak dan makan. Flagella kalaupun ada ‎pada fase perkembangan saja. Superklas ini mencakup ‎semua amoeba yang hidup di laut, air tawar, dan tanah. ‎Mungkin asimetris atau simetris bola. Organel kurang ‎berkembang dan oleh sebab itu dianggap sebagai protozoa ‎yang paling sederhana. Ada yang mempunyai srtuktur ‎rangka dengan berbagai bentuk dan komposisi. ‎
Ada hubungan filogenetik antara sarcodina dan ‎mastigophora. Beberapa jenis matigophora mengalami fase ‎amuboid dan melepaskan semua flagelanya serta bergerak ‎secara amuboid, sebaliknya beberapa species sarcodina ‎terdapat fase flagella. ‎
Sarcodina dibagi menjadi 4 group : Amoeba, ‎Foraminifera, Heliozoa, dan Radiolaria. Keempat group ‎menunjukan bentuk dan struktur yang relative berbeda. ‎


Amoeba ‎
Amoeba ada yang dibungkus  cangkang atau ‎tanpa selubung cangkang(terlanjang). Amoeba telanjang ‎dari genus amoeba dan pelomyxa bentuknya asimetris ‎dan bentuk ini selalu berubah. Sebaliknya amoeba ‎bercangkang  memperlihatkan simetris bagian luarnya ‎‎(cangkang).‎
Sitoplasma terbagi dalam ekto dan endoplasma, ‎pseudopodia ada yang tife lobopodia (pada amoeba ‎telanjang) atau tife filopodia (pada amoeba ‎bercangkang). Pada lobopodia, penjuluran lebih besar ‎dan mengandung ekto dan endoplasma, sedangkan ‎pada filopodia lebih kecil dan hanya tersusun dari ‎ektoplasma.‎
Cangkang berasal dari eksresi sitoplasma berupa ‎silica atau khitin, atau materi dari luar yang melekat. ‎Amoeba melekat pada dinding dalam cangkang dengan ‎perantaraan penjuluran protoplasma. Cangkang selalu ‎memiliki cangkang bidang terbuka untuk penjuluran ‎sitoplasma, dank arena bentuk cangkang sering mirip ‎helm atau topi.‎

Hewan ini hidup di lumpur-lumpur dibagian ‎dasar kolam, sawah, sungai danau atau di tempat-‎temoat lain yang berair dan banyak mengandung sisa-‎sisa organisme. ‎
Susunan tubuh amoeba bersifat monoseluler, ‎sedangkan bentuknya tidak tetap, selalu berubah ‎menurut keadaan (sedang bergerak, makan atau diam). ‎Protoplasmanya terdiri dari beberapa lapisan, yaitu :‎
Plasmolemma, yaitu lapisan luar sebagai ‎membran sel.‎
Ektoplasma, yaitu lapisan protoplasma yang ‎sifatnya bening.‎
Endoplasma, yaitu lapisan protoplasma yang ‎sifatnya berbutir-butir. Didalam endoplasma ini ‎didapat :‎
o Inti sel (nucleus) yang berfungsi untuk ‎mengatur kegiataan sel.‎
o Vakuola berdenyut, berfungsi untuk ‎mengatur kadar air di dalam tubuhnya, ‎berarti menjaga tekanan osmose sel agar ‎konstan (osmoregulator).‎
o Vakuola makanan, berfungsi untuk ‎mencernakan makanan, karena ‎mengeluarkan enzim. Sari makanan di ‎serap protoplasma, sisa makanan ‎dibuang. Makanannya bisa berupa : ‎bakteri, sisa-sisa organisme atau hewan ‎bersel satu lainnya.‎




Hewan ini bernapas dengan cara ‎mengambil oksigen melalui permukaan ‎tubuhnya dengan cara difusi. Sari makanan ‎dioksidasikan dengan oksigen, yang ‎akhirnya menghasilkan energi.‎
Pergerakannya :amoeba bergerak dengan ‎menjalurkan kaki semuanya (pseudo-podia) ‎dan gerakan nya disebut gerakan ameboit. ‎

Perkembangbiakan : dengan cara ‎membelah diri yaitu dimulai pembelahan ‎inti,kemudian diikut oleh sitoplasmanya. ‎Pembiakan ini berlangsung jika keadaan ‎memburuk akan membentuk kiste. ‎Pembentukan kiste ini dimaksudkan agar ‎terus dapat hidup meskipun keadaan ‎memburuk. Keadaan hidup demikian ‎disebut “hidup laten”.‎
Contah-contoh rhizopoda yang lain:‎
o Entamoeba ginggivalis, hidup ‎dalam rongga mulut membusukkan, ‎dan memakan sisa-sisa makanan ‎yang terdapat disela-sela gigi serta ‎merusak gigi sehingga bersifat ‎parasit. ‎
o Entamoeba histolitica, hidup parasit ‎dalam usus manusia dan ‎menyebabkan penyakit disentri ‎amoeba.‎
o Entamoeba coli, hidup didalam ‎usus tebal(colon) manusia, ‎membantu proses pencernaan.‎
o Arcella, mempunyai kerangka luar ‎dari khitin, seperti arloji, banyak ‎terdapat di air tawar. ‎
o Difflugia,mempunyai kerangka luar ‎yang mengandung pasir, bentuknya ‎lebih memanjang dari pada Arcella, ‎hidup di air tawar.‎


Foraminifera ‎
Terutama hidup di laut. Pseudopodianya seperti ‎benang, bercabang dan saling bersambungan disebut ‎reticulopodia. Foraminifera mensekresikan bahan ‎cangkang yang komposisinya terutama kalsium ‎karbonatsedikit bahan anorganik seperti silica dan ‎magnesium sulfat. ‎
Bentuk cangkang berbeda dengan amoeba, ‎bentuk bisa unicolar (cangkang beruang satu) atau ‎multicolor (cangkang beruang banyak). Yang terakhir ‎ini berasal dari pertumbuhan unicolar. Karena ‎penambahan ruang mengikuti pola simetris maka ‎cangkang multicolar mempunyai bentuk yang jelas, ada ‎yang bentuk garis lurus atau seperti dompol bawang  ‎atau mungkin bentuk spiral seperti pada siput.‎
Sebagian besar Foramimifera adalah benthos ‎‎(melekat pada dasar lautan), tetapi ada juga yang ‎sebagai plankton seperti Globigerina. Cangkang yang ‎hidup sebagai plankton lebih halus, sedangkan ‎cangkang plankton di kawasan berair dingin lebih kecil ‎dan kurang porous(berlubang) disbanding yang hidup ‎di daerah tropis. Dengan demikian distribusi fosil ‎species plankton merupakan indikatoriklim di zaman ‎geologik yang telah silam. ‎





Heliozoa
Ini lebih dikenal dengan binatang matahari. ‎Terutama di air tawar, hidup bebas atau melekat. ‎Pseudopodia lurus seperti jarus disebut axopodia, ‎muncul dari permukaan tubuh. Setiap axopodia ‎mengandung benang axial sentral yang tertutup oleh ‎ektoplasma yang bergranular. Fungsi benang axial ‎sebagai penopang sifatnya tidak permanen, tetapi ‎sebagai tabung protoplasma yang dapat memanjang dan ‎memendek. Axopoda untuk menangkap makanan, ‎bukan alat gerak.‎
Tubuh heliozoa terdiri dari dua bagian : bagian ‎luar(korteka sering berupa vakuola besar) dan bagian ‎dalam (mandula yang berisi protoplasma dengan satu ‎sampai beberapa nucleus dan bonggol-bonggol axial).‎
Walaupun tidak bercangkang heliozoan ‎mungkin mengandung pasir atau diatome atau silika. ‎Komponen rangka ini menempel pada bagian luar ‎lapisan gelatin yang menyelubungi sel heliozoan. ‎Susunanya mungkin lurus seperti axopodia.‎

Radiolaria
Merupakan protozoa yang paling cantik. Seluruhnya ‎hidup dilaut dan terutama sebagai plankton. Ukurannya ‎cukup besar dengan diameter mulai dari beberapa ‎millimeter sampai beberapa centimeter. Seperti heliozoa, ‎tubuh radiolaria bentuknya bulat dan terbagi menjadi ‎bagian luar dan bagian dalam. Bagian dalam yang ‎mengandung satu sampai beberapa inti terbungkus oleh ‎kapsul sentral dari bagian khitin yang berlubang-lubang ‎yang memungkinkan sitoplasma di bagian dalam ‎berhubungan dengan sitoplasma bagian luar (ekstra ‎kapsula sitoplasma). Yang terakhir ini sering meluas dan ‎disebut calymma yang menyelimuti/mengelilingi sentral ‎kapsul. ‎
Pseudopodia mungkin bertipe filopodia, ‎reticulopodia atau axapodia, yang tubuh dari sentral ‎kapsul. Rangka hampir selalu terdapat pada ‎radiolarian,biasanya mengandung silika. Susunan ‎rangka ada dua tipe : tipe pertama dan tipe radial, ‎tersusun dalam bentuk seperti duri atau jarum yang ‎mencuat keatas, tipe yang kedua berupa kisi-kisi ‎berbentuk bola.‎







a.‎ Foraminifera
b.‎ Difflugia ‎
c.‎ Arcella
d.‎ Radiolaria


Beberapa jenis Rhizopodia (Dwidjoseputro, 1984)‎



  Subfilum Sporozoa dan Cnidospora(group sporozoa)‎
o Dinding tubuh berupa pellicle, bentuk relatif tetap.‎
o Tidak memiliki alat gerak, bergerak dengan sel itu sendiri.‎
o ‎ Memiliki inti , pada waktu pembelahan ganda, inti membelah ‎berulang-ulang. Setiap inti membentuk pembungkusnya dan dihasilkan ‎individu baru yang cukup banyak.‎
o ‎ Respirasi dengan permukaan tubuh secara difusi.‎
o ‎ Ekskresi dengan permukaan tubuh.‎
o ‎ Tidak memiliki vakuola kontraktil karena hidupnya parasit.‎
o ‎ Merupakan hewan saprofitik (menyerap zat yang terlarut di ‎sekitarnya).‎
o ‎ Reproduksi vegetatif dengan pembelahan berganda dengan banyak ‎individu baru. Reproduksi generatif pada Plasmodium dengan ‎pergiliran keturunan. Fase vegetatif pada tubuh manusia dan fase ‎generatif pada tubuh nyamuk Anopheles betina.‎
Sporozoa di antaranya : Plasmodium Vivax, Plasmodium Malariae, ‎Plasmodium falcifarum, Plasmodium cynomologi, Plasmodium ‎knowlest, Plasmodium gonderi, Plasmodium berghei, Plasmodium ‎gallinaceum, Monocystis.  

Subfilum Sporozoa dan cnidospora semula memang dikelompokkan ‎dalam satu klas Sporozoa karena ada tahap menyerupai spora yang efektif ‎pada beberapa anggota kedua kelompok tersebut. Pembagian sekarang ‎menjadi dua subfilum merupakan suatu usaha untuk menentukan kedudukan ‎yang lebuh tua dari kedua kelompok tersebut, meskipun nama sporozoa tetap  ‎digunakan bagi kedua kelompok tersebut.‎
Subfilum sporozoa mencakup parasit yang paling terkenal dari semua ‎sporozoa, yaitu golongan gregarine dan coccidian. Hospesnya tersebar paling ‎banyak pada invertebrata dan vertebrata termasuk manusia.‎
Subfilum cnidospora berbeda dengan subfilum sporozoa pada struktur ‎sporanya yang mengandung benang-benang polar. Dua kelompok utama pada ‎cnidospora adalah myxosporidia dan mikrosporidia. Mixosporidia adalah ‎parasit pada vertebrata, ikan dengan menginfeksi insang, kandung kencing, ‎otot.‎
Subfilum sporozoa,klas Telospora. Subklas coccidian, contohnya ‎adalah plasmodium penyabab penyakit malaria. Plasmodium merupakan bibit ‎penyakit malaria yang pada umumnya disebarkan oleh nyamuk Anopheles. ‎Penyakit malaria merupakan penyakit daerah tropis dan beriklim lembab ‎seperti di Amerika selatan, Afrika dan juga Indonesia.penyakit ini ditularkan ‎oleh nyamuk Anopheles betina , sedangkan jantan tidak, sebab pada yang ‎jantan alat penusuknya mereduksi. Bila seekor nyamuk Anopheles betina yang ‎dalam tubuhnya telah terkandung bibit penyakit malaria atau plasmodium ‎dalam bentuk sporozoid, menusuk bagian tubuh manusia dan menghisap ‎darahnya terikutilah sporozoid-sporozoid bersama air liur nyamuk kedalam ‎tubuh penderita. Dan dengan demikianlah tibalah sporozoid dalam peredaraan ‎darahyang bersangkutan kemudian masuk kejaringan retikulo endhotelial ‎dalam hati. Didalam sel-sel hati sporozoid membelah-belah kriptozoid. ‎Nantinya kriptozoid akan meninggalkan sel-sel hati menuju peredaraan darah ‎dan selanjutnya menginfektir sel darah merah kemudian kriptozoid berubah ‎menjadi trophozoid (mula-mula bentuk cincin kemudian  berubah menjadi  ‎bentuk amoeboid tumbuh menjadi schizont). Dari bentuk amoeboid (schizont) ‎ini membelah-belah untuk menghasilkan merozoid-merozoid(6-36 buah ‎tergantung jenis plasmodiumnya). Bila sel drah merah yang ditempati pecah, ‎maka tersebalah merozoid-merozoid dan masing-masing akan mencari dan ‎menginfektir sel darah merah yang baru, sehingga terjadi siklus ulangan.‎
Setelah perkembangbiakan vegetative terjadi berulang-ulang maka ‎diantara merozoid-merozoid yang telah bersarang di dalam sel darah merah ‎ada yang berubah menjadi persiapan jenis kelamin (gametosit). Persiapan sel ‎kelamin betina disebut makrogametosit, sedangkan persiapan sel kelamin ‎jantan disebut mikrogametosit. Jika gametosit-gametosit itu terhisap oleh ‎nyamuk Anopheles betina, terjadilah pertumbuhan mikrogamet dan ‎makrogamet. Perkawinan antara makrogamet dan mikrogamet menghadirkan ‎zigota. Zigota membentuk gelembung yang aktif dan menerobos dinding perut ‎nyamuk atau disebut ookinet. Dibawah dinding perut nyamuk, ookinet ‎berubah menjadi lebih besar dan membulat atau disebut oocysta. Di dalam ‎oocysta ini inti membelah menjadi banyak, masing-masing inti terbungkus oleh ‎sitoplasma dan akhirya terjadi sporozoid-sporozoid yang baru. Oocysta yang ‎tua kemudian itu pecah, maka tersebarlah sporozoid-sporozoid itu kedalam ‎alat pencernaan nyamuk, sampai ada yang dikelenjar ludah nyamuk. Jika ‎nyamuk pembawa sporozoid ini menusuk manusia, bearti manusia itu ‎terinfeksi oleh plasmodium. Rasa demam timbul pada waktu pecahnya sel ‎darah merah krena pada saat itu ikut tersebar racun-racun(toxine) bersamaan ‎keluarnya merozoid-merozoid ke dalam sistem peredaraan darah. ‎ 
 
Siklus hidup Plasmodium (Ruppert dan Barnes, 1994)‎


Jenis plasmodium telah dikenal empat macam ialah : plasmodium ‎vivax,plasmodium malariae, plasmodium falciparum, dan plasmodium ovale. ‎Siklus hidup keempat jenis plasmodium tersebut pada prinsipnya hampir sama. ‎Sporozoit menyerang sel darah merah, kemudian berkembangbiak secara ‎vegetative menjadi merozoit. Pembiakan ini disebut sebagai spolurasi dan ‎lamanya spolurasi tiap plasmodium berbeda-beda.‎




No
Nama plasmodium
spolurasi
Nama penyakit
1
Plasmodium vivax
48 jam
Malaria Tertiana
2
Plasmodium malariae
72 jam
Malaria Quartana
3
Plasmodium falciparum
36-48 jm (tak tentu)
Malaria Tropica
4
Plasmodium ovale
48 jam
Gejala mirip malaria tertian hanya lebih ringan



  Subfilum Sporozoa,kelas Telosporea, subklas Gregarina
Contohnya adalah Monocystis Lumbrici hewan ini hidup di dalam ‎tubuh cacing tanah, baik secara intra seluler maupun secara ekstra seluler, ‎tepatnya di dalam vesikula seminalis. Siklus hidupnya adalah sebagai berikut:‎
Sporanya berbentuk seperti gelendong yang di dalamnya mengandung ‎‎8 buah sporozoit. Bila spora itu pecah maka masing-masing sporozoit akan ‎tersebar keluar dan msuk kedalam sel induk sperma dari hospesnya. Ditempat ‎tersebut sporozoid-sporozoid menjadi masak dan dewasa kemudian disebut ‎trophozoit. Sesudah itu trophozoit itu mengadakan pasangan berdua-dua dan ‎setiap pasangan dibungkus dengan dua lapisan dinding, dinding luar disebut ‎epicyst sedangkan yang dalam disebut endocyst. Kemudian setelah itu ‎masing-masing trophozoit membelah-belah membentuk sel-sel kecil yang sama ‎besarnya yang disebut sel-sel gamet atau isogamet. Setiap dari dua isogamet-‎isogamet tersebut mengadakan peleburan sehingga terbentuklah zigot yang ‎nantinya setiap zigot itu akan berubah menjadi spora dan membentuk dinding ‎yang keras.‎



  Subfilum Ciliophora, kelas Ciliatea/Ciliata

o Dinding tubuh berupa pellicle (periskel), bentuk relative tetap.‎
o ‎ Bergerak dengan cilia.‎
o ‎ Memiliki inti dan beberapa spesies intinya lebih dari satu. Contohnya : ‎Paramecium Aurelia.‎
o Respirasi dengan permukaan tubuh secara difusi.‎
o Ekskresi dengan permukaan tubuh, selain itu dengan vakuola ‎kontraktil bagi yang hidup bebas, sementara yang parasit tidak ada ‎vakuola kontraktil.‎
o ‎ Vakuola kontraktil selain sebagai alat ekskresi juga berfungsi sebagai ‎osmoregulator (mengatur keseimbangan air).‎
o ‎ Pencernaan makanan secara internal pada vakuola makanan.‎
o ‎ Reproduksi secara vegetatif dengan pembelahan biner secara ‎transversal. Reproduksi generatif dengan konyugasi pada Paramecium ‎caudatum dan autogami pada paramecium Aurelia. 
Cilliata ada yang hidup bebas dan ada juga yang parasit. ‎
Cilliata yang hidup bebas : Paramecium caudatum, Paramecium ‎Aurelia, Stentor, Spirostomum, Stylonichia, Euplotes, Prorodon, ‎Dileptus, Coleps, Vorticella, Carchecium, Epistylis, Podophrya. ‎Cilliata yang hidup parasit : Balantidium coli. 

Subfilum Ciliaphora hanya memiliki satu kelas Ciliatae. Jenisnya ‎terbesar dari semua kelas Protozoa. Semua anggotanya memiliki silia(bulu ‎getar) sebagai alat gerak atau untuk menangkap makanan dan sebagaian besar ‎memiliki “mulut” atau sitostome. Satu ciri khas Ciliophora adalah memiliki ‎dua inti: makronukleus(vegetative) dan mikronukleus(generative). Reproduksi ‎aksesualnya dengan pembelahan transversal, sedangkan reproduksi seksual ‎tanpa pembentukan gamet bebas. Anggota kelas Ciliata hidup di air tawar dan ‎air laut, beberapa bersifat ekto dan endokomensal, dan parasit. Salah satu ‎anggota yang dikenal dan hidup di air tawar adalah Paramencium caudatum.‎

Paramencium Caudatum
Hewan ini mempunyai bentuk tubuh yang sudah tetap ‎karena adanya pelikel sebagai selubung tubuhnya. Bentuk ‎tubuh menyerupai terumpah(sandal), hidupnya di air tawar.‎
Tidak jauh dari bagian depan terdapat suatu celah(oral ‎groove) menuju lubang mulutnya(cystostome). Lubang ‎mulut ini merupakan muara dari alat semacam ‎kerongkongan (gullet) berakhir pada vakuola makanan. ‎Vakuola yang telah penuh dengan makanan terlepas dari ‎kerongkongan, kemudian mengembara keseluruh bagian ‎tubuhnya dan akhirnya melepas sisa makanan kesuatu ‎tempat tertentu (cytopyge=”dubur”) ditubuh bagian ‎belakang. ‎
Didalam tubuh terdapat 2 vakuola berdenyut yang satu ‎di bagian depan dan yang lain di bagian belakang. Vakuola ‎berdenyut ini berfungsi untuk mengatur kadar air di dalam ‎tubuh (mengatur dan menjaga tekanan osmose  tubuhnya) ‎dan juga membantu membuang sisa-sisa metabolisme). Di ‎sebelah dalam pelikel(pellicle) ditemukan ektoplasmanya ‎yang bening yang mengelilingi endoplasma yang ‎berstruktur granulair dan cair. Dalam ektoplasmanya ‎ditemukan trikosis yang berbentuk seperti gelendong dan ‎letaknya berselang-selang dengan bagain berasal dari cilia ‎yang berfungsi sebagai alat pertahan atau sebagai alat untuk ‎mengikat diri pada obyek. ‎

Hewan ini mempunyai dua inti sel:‎
‎1.‎ Makronukleus (inti besar) berfungsi mengatur ‎kegiataan tubuh seperti bergerak, mencerna ‎makanan dan lain-lain (fungsi vegetative).‎
‎2.‎ Mikronukleus (inti kecil) yang berfungsi ‎mengatur pembiakan (fungsi generative).‎

Pergerakannya : hewan ini bergerak maju sambil ‎mengadakan gerak rotasi yang arah putaranya bila ‎dilihat dari belakang berlawanan dengan arah jarum ‎jam. Pergerakan tersebut terjadi karena perpaduan ‎antara gerak cilia tubuh seperti sistem dayung dan ‎gerak cilia pada oral groove yang sangat kuat.‎







Pada gambar diatas Nampak arah peredaraan ‎vakuola makanan. Mula-mula setelah vakuola ‎makanan melekat pada kerongkongan itu penuh ‎dengan makanan, segera vakuola makanan itu lepas ‎dan kemudian beredar keseluruh tubuh. Sambil ‎beredar sari makanan diserap oleh protoplasma dan ‎sisanya dilepas melalui tempat tertentu yang ‎merupakan “anus”nya.‎
Perkembangbiakannya : paramencium ‎caudatum, memperbanyak diri dengan membelah ‎diri, mulai dengan mikronukleus membelah menjadi ‎dua secara mitosis, kemudian dilanjutkan oleh ‎makronukleus secara amitosis. Untuk selanjutnya ‎diikuti oleh bagian tubuhnya yang lain, sehingga ‎menjadi dua individu yang baru. Apabila sudah ‎sering kali membelah diri, kemudian pada suatu saat ‎hewan tersebut mengadakan konyugasi. Proses ini ‎dilaksanakan dalam rangka meningkatkan vitalitas ‎hewan yang bersangkutan dan juga dalam rangka ‎mengadakan proses perkembangbiakan. Pada ‎prinsipnya konyugasi itu adalah merupakan suatu ‎proses saling tukar material mikronukleus antara dua ‎paramencium. ‎



‎ Proses Konyugasi Paramencium Caudatum (Jordan dan Verma, 1983)‎

Proses konyugasi dapat digambarkana sbb :‎
‎1.‎ Dua paramencium caudatum bertemu, ‎kemudian berpadu pada bagian mulut.‎
‎2.‎ Pada tiap individu makronukleus ‎melebur dan mikronukleus membelah ‎menjadi dua.‎
‎3.‎ Dari masing-masing individu, ‎makronukleus melenyap, mikronukleus ‎membelah lagi menjadi empat.‎
‎4.‎ Tiga dari empat inti melenyap, tinggal ‎satu mikronukleus.‎
‎5.‎ Mikronukleus membelah menjadi dua, ‎dimana yang satu lebih kecil. Masing-‎masing disebut pronuklei.‎
‎6.‎ Kemudian terjadi pertukaran pronuklei ‎yang kecil.‎
‎7.‎ Pronuklei kecil pendatang (“sel kelamin ‎jantan”) melebur menjadi satu. Dengan ‎pronuklei besar (“sel kelamin betina”) ‎yang tetap tinggal ditempat.‎
‎8.‎ Kemudian dua individu memisahkan ‎diri.‎
‎9.‎ ‎10 dan 11, masing-masing inti ‎membelah  berturut-turut hingga ‎menjadi delapan.‎
‎12. Empat bagian menjadi makronukleus, ‎tiga bagian lenyap, satu sisanya menjadi ‎mikronukleus. ‎
‎13. Kemudian mikronukleus membelah lagi ‎menjadi dua, untuk selanjutnya terjadi ‎dua paramencium, masing-masing ‎mempunyai dua makronukleus dan satu ‎mikronukleus.‎
‎14. Akhirnya tiap Paramencium yang baru ‎mikronukleus membelah menjadi dua ‎dengan diikuti pembelahaan ‎sitoplasmanya. Dengan demikian ‎dihasilkan dua paramencium, masing-‎masing dengan satu makro dan satu ‎mikronukleus.‎

Jadi kalau diikuti dengan seksama, maka dari ‎dua paramencium caudatum yang mengadakan ‎konyugasi,kemudian diikuti proses pembelahan dan ‎akhirnya didapatkan 2x2x2=8 paramencium ‎caudatum yang baru.‎



Beberapa contoh Ciliata yang lain : ‎
Stentor coerulens: bentuknya seperti ‎terompet, biasanya bagian pangkal ‎melekat pada suatu tempat, atau ‎berpindah-pindah.‎
Vorticella campanula: bentuk tubuh ‎seperti lonceng dengan tangkai yang ‎panjang dan dengan tangkainya ini ‎hewan melekatkan diri pada suatu ‎tempat. Tangkai bisa lurus memanjang, ‎bisa pula memendek membentuk spiral.‎
Stylonychia mytilus: hewan ini lebih kecil ‎dari pada paramencium, dengan ditandai ‎adanya ciliaberkelompok diujung-ujung ‎tubuhnya. Cilia yang Nampak lebih ‎panjang lebih kuat dan berkelompok itu ‎disebut Ciri. ‎
Balantidium coli: hidup di dalam colon. ‎Bentuk tubuh agak bulat telur. ‎Merupakan hewan parasit dan bisa ‎menimbulkan ulcers (borok)pada colon. ‎
Penyakitnya disebut balanti diasis.‎













BAB III

PENUTUP

A.‎ Kesimpulan ‎
Hewan bersel satu (Protozoa) sangat beraneka ragam, umumnya ‎mikroskopis, hidup di tempat-tempat yang lembab (berair) bahkan di dalam ‎tubuh organisme lain. Ada yang hidup bebas, komensal dan ada pula yang ‎parasit pada hewan lain.‎
Klasifikasi menurut para ahli berbeda-beda, namun pada umumnya ‎klasifikasi hewan ini didasarkan atas alat geraknya seperti diklasifikasikan oleh ‎Barnes di atas.‎
Euglena viridis merupakan contoh Flagelata representative. Sifat yang ‎unik pada hewan ini, di dalam tubuhnya terdapat butir-butir kloroplas ‎sehingga hewan ini dapat mengadakan proses fotosintesis. Berdasarkan sifat ‎ini, beberapa ahli memasukan hewan ini ke dalam kelompok tumbuhan.‎
Amoeba proteus, salah satu anggota Rhizopoda, bergerak dengan ‎menggunakan kaki semu (pseudopodia). Hewan ini makan dengan ‎menggunakan pseudopodianya yang berfungsi juga sebagai mulutnya. ‎
Plasmodium vivax, termasuk Sporozoa yang hidup parasit, dalam ‎tubuh vertebrata. Plasmodium ini menyebabkan penyakit malaria sebagai ‎penularanya adalah nyamuk Anopheles.‎
Paramencium caudatum, termasuk anggota Ciliata. Hewan tersebut ‎memiliki mikro dan makronukleus. Mikronukleus sangat berperan untuk ‎kepentingan proses-proses generative, sedangkan makronukleus berkaitan ‎dengan fungsi vegetative. ‎





DAFTAR PUSTAKA


http://nitehawkripper.blogspot.com/2011/06/filum-protozoa.html

http://moeyanti.blogspot.com/2010/06/filum-protozoa.html

http://huderi.wordpress.com/2011/01/22/makalah-protozoa/‎










‎ ‎

‎ ‎



0 komentar: