Prinsip All or None pada
Kontraksi Sel Otot Rangka
Otot sebagai alat gerak aktif memiliki sifat iritabilitas yang ditunjukkan
dengan proses menanggapi rangsang (mengenal dan merespon rangsang/stimulus)
yang mengenainya secara langsung, tanpa tergantung pada jaringan saraf yang
biasa mengaktifkannya. Kondisi iritabilitas otot dapat melemah jika otot telah
mengalami kelelahan dan kembali ke kondisi maksimum apabila tersuplai oleh
nutrisi dan oksigen yang cukup. Perlu diperhatikan bahwa prinsip all or none
pada otot hanya berlaku pada setiap sel otot rangka, bukan pada gumpal otot
atau otot secara umum serta pada sel otot jantung. Hal ini berarti bahwa
apabila suatu sel otot rangka atau serabut otot diberikan stimulus di atas
ambang ataupun ambang, maka sel otot akan berkontraksi penuh. Tetapi sebaliknya
apabila stimulus yang mengenai sel otot berada di bawah ambang/subminimal maka
sel otot tidak akan berkontraksi sama sekali. Stimulus bawah ambang dapat
menimbulkan respon kontraksi dengan syarat diberikan secara berkali-kali dengan
rentang waktu yang cepat (sumasi stimulus).
Apabila suatu saraf motor teraktivasi, maka semua sel-sel otot yang disarafinya
berkontraksi secara simultan. Semakin banyak saraf motor yang diaktifkan maka
makin banyak pula sel-sel otot yang berkontraksi. Jadi makin kuat stimulus yang
mengenai saraf motor maka semakin banyak unit motor yang diaktifkan sehingga
kontraksi otot semakin kuat.
Kesimpulannya,
serat otot tunggal berkontraksi pada respon all-or-nothing. Dengan kata lain,
serat tunggal berkontraksi secara maksimal (sekuat mungkin), atau dia tidak
dapat berkontraksi sama sekali. Dia tidak pernah berkontraksi secara parsial.
Meskipun demikian, otot secara keseluruhan mampu berkontraksi secara parsial;
dia dapat berkontraksi secara lemah atau sangat kuat. Singkatnya, hanya sedikit
tenaga yang diperlukan untuk mengangkat pensil. Tenaga yang lebih besar
diperlukan untuk mengangkat beban seberat 45 kg. Bagaimana otot secara
keseluruhan dapat memiliki kekuatan kontraksi yang berbeda? Mengangkat pensil
yang memerlukan beberapa ratus serat otot saja. Serat-serat ini berkontraksi
secara all-ornothing, tapi hanya beberapa serat yang berkontraksi. Meskipun
demikian, mengangkat benda seberat 45 kg, memerlukan kontraksi dari ribuan
serat, semuanya berkontraksi dengan cara all-or-nothing. Kekuatan otot yang
makin besar didapat dengan jalan menggunakan atau merekrut, serat-serat
tambahan. Proses ini disebut rekrutmen.
Jadi kekuatan dari kontraksi otot rangka dapat bervariasi berdasarkan pada
rekrutmen serat-serat otot tambahan.
Tonus Otot
Tonus otot, atau tonus, merujuk
pada kondisi normal dan berkelanjutan dari kontraksi otot yang parsial sehingga
ketika otot-otot tersebut dibutuhkan
untuk aksi yang khusus, otot-otot tersebut tidak membutuhkan pemanasan terlebih
dahulu. Tonus terjadi karena kontraksi dari berbagai kelompok serat otot yang
berbeda dalam sebuah otot secara keseluruhan. Untuk mempertahankan tonus otot,
sekelompok dari serat-serat otot berkontraksi. Ketika serat-serat ini mulai
relaksasi, kelompok otot kedua berkontraksi. Pola kontraksi dan relaksasi ini berlangsung
terus untuk mempertahankan tonus otot. Tonus otot memainkan sejumlah peran
penting dalam perawatan bentuk tubuh. Singkatnya, tonus otot dari otot polos di
pembuluh darah membantu mempertahankan tekanan darah. Jika tonus otot menurun,
orang mungkin mengalami penurunan tekanan darah yang mengancam nyawa.
Resting
length
Jumlah dari tegangan yang dapat
dihasilkan oleh otot (contractile property) dan jumlah dari tegangan yang dapat
digunakan oleh otot yang tidak terstimulasi (elastic property) bervariasi,
tergantung dari panjang serat-serat ototnya. Perkembangan panjang dari otot
merupakan suatu kemampuan kontraksi yang paling baik dan biasanya disebut resting
length. Elongasi yang melebihi resting strength dari otot dapat meningkatkan
elastic property yang pasif (dengan batas structural dari otot) tetapi dapat
menurunkan jumlah tekanan otot yang menghasilkan kontraksi aktif.
Miotatik
atau refleks regangan
Pada hal ini, kontraksi yang
dimaksud adalah refleksi di origo dan hal ini disebabkan oleh tarikan pada otot
tambahan di jaringan pendukungnya. Sebagai contohnya, saat dokter gigi menarik
bibir pasien, semakin kuat tarikan yang dilakukan ke bibir, semakin kuat pula
perlawanan yang dilakukan oleh otot bibir tersebut.
Persarafan
resiprokal dan penghambatan
Setiap otot ditubuh memiliki otot
antagonisnya sendiri. Jika hanya satu otot yang berkontraksi tidak akan terjadi
aksi dari otot tersebut,. Stimulus kontraksi minimal dari otot antagonis akan
membantu mengendalikan gerak otot utama. Akan tetapi otot antagonis tidak boleh
bereaksi secara kua, dikarenakan tonus atau kekuatan kontraksi harus dihambat.
Selama terjadi kombinasi dari stimulus otot utama dan hambatan oleh otot
antagonisnya, gerak spesifik dan tepat akan terkendali.
Sumber :
0 komentar:
Posting Komentar