RSS Feed

Jumat, Desember 13, 2013

PRINSIP KERJA OTOT

Prinsip All or None pada Kontraksi Sel Otot Rangka
            Otot sebagai alat gerak aktif memiliki sifat iritabilitas yang ditunjukkan dengan proses menanggapi rangsang (mengenal dan merespon rangsang/stimulus) yang mengenainya secara langsung, tanpa tergantung pada jaringan saraf yang biasa mengaktifkannya. Kondisi iritabilitas otot dapat melemah jika otot telah mengalami kelelahan dan kembali ke kondisi maksimum apabila tersuplai oleh nutrisi dan oksigen yang cukup. Perlu diperhatikan bahwa prinsip all or none pada otot hanya berlaku pada setiap sel otot rangka, bukan pada gumpal otot atau otot secara umum serta pada sel otot jantung. Hal ini berarti bahwa apabila suatu sel otot rangka atau serabut otot diberikan stimulus di atas ambang ataupun ambang, maka sel otot akan berkontraksi penuh. Tetapi sebaliknya apabila stimulus yang mengenai sel otot berada di bawah ambang/subminimal maka sel otot tidak akan berkontraksi sama sekali. Stimulus bawah ambang dapat menimbulkan respon kontraksi dengan syarat diberikan secara berkali-kali dengan rentang waktu yang cepat (sumasi stimulus).
     
       Sangat berbeda pada otot atau jaringan otot, prinsip all or none tidak bisa berlaku pada jaringan ini. Pada sel otot makin kuat stimulus yang diberikan maka kekuatan kontraksinya tetap, sedangkan pada jaringan otot makin kuat stimulus yang diberikan maka makin kuat pula kekuatan kontraksinya. Hal ini terkait dengan adanya unit-unit motorik pada jaringan otot, dimana setiap unit motorik (serabut saraf motorik) tunggal akan bercabang > 100 cabang kecil yang masing-masing cabang akan mensyarafi sel otot. Bagian ujung saraf yang melekat pada otot biasanya disebut dengan motor end plate atau myoneural junction. Satu serabut saraf motor tunggal beserta dengan sel-sel otot yang disarafi dikenal dengan istilah unit motor.
            Apabila suatu saraf motor teraktivasi, maka semua sel-sel otot yang disarafinya berkontraksi secara simultan. Semakin banyak saraf motor yang diaktifkan maka makin banyak pula sel-sel otot yang berkontraksi. Jadi makin kuat stimulus yang mengenai saraf motor maka semakin banyak unit motor yang diaktifkan sehingga kontraksi otot semakin kuat.
            Kesimpulannya, serat otot tunggal berkontraksi pada respon all-or-nothing. Dengan kata lain, serat tunggal berkontraksi secara maksimal (sekuat mungkin), atau dia tidak dapat berkontraksi sama sekali. Dia tidak pernah berkontraksi secara parsial. Meskipun demikian, otot secara keseluruhan mampu berkontraksi secara parsial; dia dapat berkontraksi secara lemah atau sangat kuat. Singkatnya, hanya sedikit tenaga yang diperlukan untuk mengangkat pensil. Tenaga yang lebih besar diperlukan untuk mengangkat beban seberat 45 kg. Bagaimana otot secara keseluruhan dapat memiliki kekuatan kontraksi yang berbeda? Mengangkat pensil yang memerlukan beberapa ratus serat otot saja. Serat-serat ini berkontraksi secara all-ornothing, tapi hanya beberapa serat yang berkontraksi. Meskipun demikian, mengangkat benda seberat 45 kg, memerlukan kontraksi dari ribuan serat, semuanya berkontraksi dengan cara all-or-nothing. Kekuatan otot yang makin besar didapat dengan jalan menggunakan atau merekrut, serat-serat
tambahan. Proses ini disebut rekrutmen. Jadi kekuatan dari kontraksi otot rangka dapat bervariasi berdasarkan pada rekrutmen serat-serat otot tambahan.

Tonus Otot
Tonus otot, atau tonus, merujuk pada kondisi normal dan berkelanjutan dari kontraksi otot yang parsial sehingga ketika otot-otot  tersebut dibutuhkan untuk aksi yang khusus, otot-otot tersebut tidak membutuhkan pemanasan terlebih dahulu. Tonus terjadi karena kontraksi dari berbagai kelompok serat otot yang berbeda dalam sebuah otot secara keseluruhan. Untuk mempertahankan tonus otot, sekelompok dari serat-serat otot berkontraksi. Ketika serat-serat ini mulai relaksasi, kelompok otot kedua berkontraksi. Pola kontraksi dan relaksasi ini berlangsung terus untuk mempertahankan tonus otot. Tonus otot memainkan sejumlah peran penting dalam perawatan bentuk tubuh. Singkatnya, tonus otot dari otot polos di pembuluh darah membantu mempertahankan tekanan darah. Jika tonus otot menurun, orang mungkin mengalami penurunan tekanan darah yang mengancam nyawa.

Resting length
Jumlah dari tegangan yang dapat dihasilkan oleh otot (contractile property) dan jumlah dari tegangan yang dapat digunakan oleh otot yang tidak terstimulasi (elastic property) bervariasi, tergantung dari panjang serat-serat ototnya. Perkembangan panjang dari otot merupakan suatu kemampuan kontraksi yang paling baik dan biasanya disebut resting length. Elongasi yang melebihi resting strength dari otot dapat meningkatkan elastic property yang pasif (dengan batas structural dari otot) tetapi dapat menurunkan jumlah tekanan otot yang menghasilkan kontraksi aktif.

Miotatik atau refleks regangan
Pada hal ini, kontraksi yang dimaksud adalah refleksi di origo dan hal ini disebabkan oleh tarikan pada otot tambahan di jaringan pendukungnya. Sebagai contohnya, saat dokter gigi menarik bibir pasien, semakin kuat tarikan yang dilakukan ke bibir, semakin kuat pula perlawanan yang dilakukan oleh otot bibir tersebut.

Persarafan resiprokal dan penghambatan

Setiap otot ditubuh memiliki otot antagonisnya sendiri. Jika hanya satu otot yang berkontraksi tidak akan terjadi aksi dari otot tersebut,. Stimulus kontraksi minimal dari otot antagonis akan membantu mengendalikan gerak otot utama. Akan tetapi otot antagonis tidak boleh bereaksi secara kua, dikarenakan tonus atau kekuatan kontraksi harus dihambat. Selama terjadi kombinasi dari stimulus otot utama dan hambatan oleh otot antagonisnya, gerak spesifik dan tepat akan terkendali.

Sumber :

0 komentar: