Dengan adanya penemuan Virchow
tentang “omnis cellula e cellula”
pada tahun 1858, ini berarti bahwa sel mempunyai kemampuan untuk berkembang
biak atau membelah dengan menghasilkan sel baru yang mempunyai sifat yang sama
dengan induknya. Jadi jelas bahwa ada faktor-faktor yang diturunkan oleh sel
induk kepada sel anaknya/ keturunannya.
Menurut Wilson, sifat menurun
akan muncul sebagai konsekuensi adanya kontinuitas genetik dari sel melalui
pembelahan.
Tahun 1883, Weissman menyatakan
bahwa pemindahan faktor menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya
karena adanya “germ plasm” yang
terdapat dalam sel kelamin.
Dengan ditemukannya hakekat
konsepsi oleh Hertwig pada tahun 1875 maka penelitian tentang faktor-faktor
yang menurun makin berkembang. Tahun 1879, H. Fold dan Strassburger
mengemukakan teori bahwa inti sel memegang peran penting dalam proses
pengalihan faktor-faktor yang diturunkan. Kemudian Roux menemukan adanya
benang-benang dalam inti sel yang disebut benang-benang kromatin yang
mengandung faktor-faktor yang menurun.benang–benang kromatin inilah yang
menurut Waldeyer mengandung kromosom yang kemudian oleh Weissmann dikatakan
mengandung unit-unit tertentu yang mengandung faktor-faktor yang diturunkan.
Asal kejadian genetika modern
dimulai dari taman sebuah biara, di mana seorang biarawan bernama Gregor Mendel
mencatat sebuah mekanisme penurunan sifat partikulat. Mendel menemukan prinsip
dasar hereditas dengan membudidayakan kacang ercis dalam suatu percobaan yang
terencana dan teliti. Mendel mungkin memilih untuk bekerja menggunakan kacang
ercis karena kacang ercis memiliki banyak varietas. Sebagai contoh, ada
varietas yang mempunyai bunga ungu, sementara varietas yang lain ternyata
mempunyai bunga putih. Ahli genetika menggunakan istilah karakter untuk
menjelaskan sifat yang dapat diturunkan, seperti warna bunga, yang terdapat
pada individu. Setiap varian dari suatu karakter, seperti warna bunga ungu dan
putih pada bunga, dinamakan sifat (trait).
Penggunaan kacang ercis juga
membuat Mendel dapat melakukan kontrol yang ketat berkenaan dengan tanaman mana
saja yang dapat saling dikawinkan. Organ kelamin dari tanaman kacang ercis
terdapat pada bunganya dan setiap bunga kacang ercis mempunyai sekaligus organ
kelamin jantan dan betina—masing-masing stamen (benang sari) dan karpel
(putik). Biasanya tanaman ini berfertilisasi sendiri; butir-butir polen (serbuk
sari) lepas dari stamen dan jatuh di karpel dari bunga yang sama, dan sperma
dari polem membuahi ovum di karpel. Untuk mendapatkan penyerbukan silang
(fertilisasi di antara tanaman-tanaman yang berbeda), Mendel memindahkan stamen
yang belum matang dari sebuah tanaman sebelum stamen-stamen tersebut
menghasilkan polen dan selanjutnya menaburkan butir-butir polen dari tanaman
lain ke atas bunga yang telah “dikebiri” tersebut. Setiap zigot yang dihasilkan
kemudian akan berkembang menjadi embrio tanaman yang disimpan di dalam biji (kacang).
Terlepas ia memastikan memilih untuk membiarkan penyerbukan sendiri atau
melakukan penyerbukan silang buatan, Mendel selalu dapat mengetahui dengan
pasti asal-usul (induk) biji yang baru.
Mendel memilih untuk menelusuri
hanya karakter-karakter yang bervariasi dengan pendekatan apakah karakter
tersebut “ada atau tidak ada” dan bukan dengan apakah karakter tersebut “lebih
banyak atau lebih sedikit”. Sebagai contoh, tanaman Mendel mempunyai bunga yang
ungu saja atau putih saja; tidak ada karakter antara pada kedua varietas
tersebut. Seandainya Mendel ternyata memfokuskan penelitiannya pada
karakter-karakter yang terus berubah-ubah pada individu—contohnya berat
biji—Mendel tidak akan pernah menemukan sifat partikulat pada penurunan sifat.
Mendel juga memastikan bahwa
dia memulai percobaannya dengan varietas galur murni (true-breeding), yang berarti ketika tanaman menyerbuk sendiri,
semua keturunannya akan mempunyai varietas yang sama. Contohnya, suatu tanaman
dengan bunga ungu adalah perkawinan galur murni jika biji dihasilkan melalui
penyerbukan sendiri menghasilkan tanaman yang juga mempunyai bunga ungu.
Dalam sebuah percobaan
pengembangbiakan yang biasa dilakukan, Mendel biasanya akan melakukan
penyerbukan silang terhadap dua varietas ercis galur murni yang
kontras—contohnya tanaman berbunga ungu dan tanaman berbunga putih. Perkawinan,
atau penyilangan dua varietas ini disebut hibridisasi. Contoh yang dijelaskan
di sini lebih spesifik yaitu penyilangan monohibrid, istilah untuk penyilangan
yang menelusuri penurunan sifat sebuah karakter pada kasus ini adalah warna
bunga. Induk galur murni disebut generasi P (dari kata parental), dan keturunan
hibridnya adalah generasi F1 (dari kata
filial keturunan pertama). Membiarkan hibrid F1 ini melakukan
penyerbukan sendiri menghasilkan generasi F2 (filial kedua). Mendel
biasanya mengikuti sifat-sifat bawaan paling sedikit untuk tiga generasi P, F1,
dan F2. Seandainya saja Mendel menghentikan percobaannya pada
generasi F1, pola dasar penurunan sifat bisa saja menipunya.
Analisis kuantitatif Mendel pada tanaman F2 inilah yang terutama
mengungkapkan dua prinsip dasar hereditas yang sekarang dikenal dengan hukum
segregasi dan hukum pemilahan bebas. Hukum dasar tentang genetika telah
dikemukakan oleh Gregor Mendel pada tahun 1865, tetapi perubahan-perubahan yang
terjadi dalam sel belum dapat dijelaskan atau belum banyak diketahui.
Para ahli sitologi berhasil
mempelajari proses mitosis pada tahun 1875 dan proses meiosis pada tahun
1890-an. Kemudian di sekitar tahun 1900-an, sitologi dan genetika bersatu pada
saat ahli-ahli biologi mulai melihat kesamaan antara perilaku kromosom dan
perilaku faktor-faktor Mendel. Sebagai contoh, kromosom dan gen kedua-duanya
hadir dalam bentuk pasangan di dalam sel diploid. Kromosom-kromosom homolog
berpisah dan alel-alel bersegregasi selama meiosis, dan fertilisasi (pembuahan)
memulihkan kembali kondisi berpasangan ini baik untuk kromosom maupun untuk
gen. Pada abad XX setelah biologi sel berkembang dengan pesat barulah mekanisme
distribusi faktor-faktor yang menurun ini dapat dijelaskan, yaitu berdasarkan
pada penelitian-penelitian Correns, Tschermack dan De Vries pada tahun 1901. Sekitar
tahun 1902, Walter S. Sutton, Theodor Boveri, dan yang lain-lainnya secara
terpisah memperhatikan kesamaan-kesamaan tersebut dan akhirnya suatu teori
kromosom mengenai penurunan sifat mulai terbentuk. Menurut teori tersebut,
gen-gen “Mendel” mempunyai lokus-lokus khusus pada kromosom, dan kromosomlah
yang mengalami segregasi dan pemilahan independen.
Thomas Hunt Morgan, seorang
ahli embriologi pada Columbia University adalah orang pertama yang
menghubungkan suatu gen tertentu dengan kromosom khusus, di awal abad kedua
puluh. Meskipun pada awalnya Morgan meragukan Mendelisme dan teori kromosom,
eksperimen-eksperimen awalnya memberikan bukti yang meyakinkan bahwa kromosom
memang merupakan lokasi dari faktor sifat keturunan Mendel.
Kemudian dapat pula dijelaskan
bagaimana terjadinya proses pembelahan meiosis dimana dalam sel kelamin hanya
terdapat kromosom yang bersifat haploid.
Penelitian-penelitian di bidang
genetika berkembang terus sejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam
biologi sel dan kemudian muncul ilmu baru yang dikenal sebagai sitogenetika.
Perkembangan sitogenetika ini kemudian sejalan pula dengan perkembangan
biokimia sehingga akhirnya muncul ilmu baru yang mempelajari tentang genetika
ditingkat molekul yang dinamakan genetika molekuler.
Perkembangan biologi sel dan molekuler semakin
pesat dengan ditemukannya materi genetik oleh F Miescher pada awal abad ke19.
Dengan menggunakan mikroskop sederhana, F Miescher telah menemukan adanya
bahan aktif di dalam nucleus dan disebut sebagai nuclein. Akan tetapi peneliti
ini belum bisa menetapkan apakah nuclein ini kromosom ataukah DNA. Gagasan
bahwa gen terletak di dalam kromosom baru dikemukakan oleh W.Sutton pada tahun
1903 dan gagasan ini mendapat dukungan secara eksperimental oleh T.H.Morgan
pada tahun 1910. Pada tahun 1922 Morgan
melakukan pemetaan gen dan melakukan analisis menyeluruh mengenai posisi relatif
lebih dari 2000 gen pada keempat kromosom Drosophila melanogaster.
Pada tahun 1953, James Watson and Francis
Crick telah berhasil menemukan model struktur DNA. Publikasi dari model double
heliks DNA ini disusun berdasarkan penemuan:
1. Penemuan struktur
asam nukleat dari Pauling & Corey
2. Pola difraksi
DNA (Single-crystal X-ray analysis) dari Wilkins & Franklin
3. Pola
perbandingan jumlah A-T, G-C (1:1) dari Chargaff atau dikenal sebagai Hukum
Ekivalen Chargaff:
· Jumlah purin sama dengan pirimidin
· Banyaknya adenin
sama dengan timin, juga jumlah glisin sama dengan sitosin
Dengan menggunakan model-model
molekuler yang terbuat dari kawat, Watson dan Crick mulai membuat model
terskala dari suatu heliks ganda yang sesuai dengan hasil pengukuran sinar-X
dan dengan apa yang kemudian dikenal tentang kimia DNA. Setelah gagal membuat
model yang memuaskan yang menempatkan rantai gula-fosfat di bagian dalam
molekul, Watson mencoba menempatkan rantai-rantai ini di bagian luar dan
memaksa basa-basa nitrogen meliuk-liuk menuju bagian dalam heliks ganda.
Bayangkan heliks ganda ini sebagai tangga tali yang mempunyai anak tangga yang
kaku, dengan tangga terpuntir membentuk spiral. Tali-tali di sampingnya
equivalen dengan tulang belakang gula-fosfat, dan anak tangganya mewakili
pasangan basa nitrogen. Data sinar-X Franklin mengindikasikan bahwa heliks
membentuk satu putaran penuh setiap 3,4 nm panjang heliks. Karena basa-basa
tersebut tertumpuk hanya dengan jarak pemisah 0,34 nm, maka akan terdapat 10
lapis pasangan basa, atau anak tangga pada tangga, untuk setiap putaran heliks.
Pengaturan ini menarik karena basa-basa nitrogen yang relatif hidrofobik
ditempatkan di bagian dalam molekul sehingga jauh dari medium air di
sekelilingnya.
Basa-basa dari nitrogen dari heliks
ganda ini berpasangan dalam kombinasi yang spesifik: adenin (A) dengan Timin
(T), dan guanin (G) dengan sitosin (C). Watson dan Crick menemukan unsur
penting DNA ini terutama dengan proses trial
and error. Pada awalnya, Watson membayangkan basa-basa tersebut berpasangan
dengan basa sejenis (like-with-like,
sejenis-dengan-sejenis)—sebagai contoh, A dengan A dan C dengan C. Tetapi model
ini tidak sesuai dengan data sinar-X, yang menunjukkan bahwa heliks ganda
tersebut mempunyai diameter yang seragam. Mengapa persyaratan ini tidak sesuai
dengan konsep pasangan basa sejenis-dengan-sejenis? Adenin dan guanin adalah
purin, basa nitrogen dengan dua cincin organik. Sebaliknya, sitosin dan timin
adalah anggota famili basa nitrogen yang dikenal sebagai pirimidin, yang
mempunyai satu cincin tunggal. Oleh karena itu, purin (A dan G) kurang lebih
dua kali lebih lebar daripada pirimidin (C dan T). Pasangan purin-purin terlalu
lebar, sedangkan pasangan pirimidin-pirimidin terlalu sempit untuk heliks ganda
yang diameternya 2 nm. Jalan keluarnya adalah selalu memasangkan satu purin
dengan satu pirimidin.
Watson dan Crick beralasan
bahwa pasti ada kekhususan tambahan lain mengenai pemasangan yang ditentukan
oleh struktur basa-basa itu. Setiap basa memiliki gugus-gugus samping kimiawi
yang dapat membentuk ikatan hidrogen dengan pasangannya yang sesuai: Adenin
dapat membentuk dua ikatan hidrogen dengan timin dan hanya dengan timin; Guanin
membentuk tiga ikatan dengan sitosin dan hanya dengan sitosin. Notasi
pendeknya, A berpasangan dengan T, dan G berpasangan dengan C.
Model Watson-Crick ini
menjelaskan aturan-aturan Chargaff. Di mana saja satu untai molekul DNA
memiliki sebuah A, untaian pasangannya pasti mempunyai sebuah T. Dan sebuah G
pada satu untai selalu berpasangan dengan sebuah C pada untai komplementernya.
Oleh karena itu, pada DNA dari setiap organisme, banyaknya adenin sama dengan
banyaknya timin, dan banyaknya guanin sama dengan banyaknya sitosin. Meskipun
aturan pemasangan basa menentukan kombinasi basa nitrogen yang membentuk “anak
tangga” dari heliks ganda, aturan ini tidak membatasi urutan nukleotida di
sepanjang masing-masing untai DNA. Jadi, urutan linear dari keempat basa ini
dapat diubah-ubah dengan cara yang tidak terhingga banyaknya, dan setiap gen
mempunyai urutan yang unik, atau urutan basa.
Pada bulan April 1953, Watson
dan Crick menyentak kalangan ilmiah sedunia dengan satu artikel singkat setebal
satu halaman di jurnal Inggris Nature.
Artikel tersebut melaporkan model molekuler mereka untuk DNA: heliks ganda,
yang sejak itu menjadi simbol bologi molekuler. Keindahan model tersebut adalah
strukturnya menunjukkan mekanisme dasar replikasi DNA.
0 komentar:
Posting Komentar